Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Menjadi Teladan

Assalamualaikum.

Alhamdulillah, artikel ini merupakan pelengkap kedua artikel sebelumnya yang berkaitan dengan tarbiyyah salafiyyah. Semoga bermanfaat.

Abu Abdirrohman As Salafy

Menjadi Teladan yang Baik Bagi Keluarga

18 Agustus 2010

Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Salah satu watak bawaan manusia sejak diciptakan Allah Ta’ala adalah kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف وما تناكر اختلف

“Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih”[1].

Oleh karena itulah, metode pendidikan dengan menampilkan contoh figur untuk diteladani adalah termasuk salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dan bermanfaat.

Dalam banyak ayat al-Qur’an Allah Ta’ala menceritakan kisah-kisah keteladanan para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi panutan bagi orang-orang yang beriman dalam meneguhkan keimanan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud:120).

Ketika menjelaskan makna ayat ini, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Yaitu: supaya hatimu tenang dan teguh (dalam keimanan), dan (supaya kamu) bersabar seperti sabarnya para Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena jiwa manusia (cenderung) senang meniru dan mengikuti (orang lain), dan (ini menjadikannya lebih) bersemangat dalam beramal shaleh, serta berlomba dalam mengerjakan kebaikan…”[2].

Menjadikan diri sebagai panutan dalam keluarga

Termasuk teladan kebaikan yang utama bagi keluarga kita adalah diri kita sendiri, karena tentu saja kita adalah orang yang paling dekat dengan mereka dan paling mudah mempengaruhi akhlak dan tingkah laku mereka. Maka menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anggota keluarga adalah termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan[3].

Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan[4].

Oleh karena itu, seorang pendidik yang ingin berhasil dalam mendidik anggota keluarganya, hendaknya berusaha memanfaatkan keberadaannya di tengah-tengah keluarganya untuk mendidik dan mengarahkan mereka kepada petunjuk Allah Ta’ala, bukan hanya dengan ucapan dan nasehat, tapi lebih dari itu, dengan menampilkan teladan baik yang langsung terlihat di mata mereka. Hal ini disamping membiasakan mereka melihat praktek amal-amal kebaikan, juga akan menumbuhkan kecintaan dan kekaguman dalam diri mereka terhadapnya, yang pada gilirannya akan memudahkan mereka untuk mengikuti semua bimbingan dan petunjuknya.

Dalam hal ini, imam Ibnul Jauzi rahimahullah membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibarahim al-Harbi rahimahullah [5]. Dari Muqatil bin Muhammad al-’Ataki rahimahullah, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”[6].

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata: “Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’ “[7].

Memberi manfaat rohani bagi anggota keluarga

Seorang pendidik yang berilmu diperumpamakan seperti hujan yang baik, dimanapun dia berada maka dia akan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya[8].

Inilah makna firman Allah Ta’ala tentang ucapan Nabi Isa ‘alaihis salam:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada” (QS Maryam:31).

Artinya: Dia menjadikan aku bermanfaat bagi orang-orang yang hidup di sekitarku, dengan aku mengajarkan kebaikan kepada mereka, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, serta menyeru mereka ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatanku”[9].

Di dalam biografi beberapa ulama salaf, kita dapati banyak kisah nyata peranan seorang pendidik dalam memberikan manfaat kebaikan bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Misalnya, apa yang disebutkan dalam biografi salah seorang Imam besar dari kalangan tabi’in, Hasan bin Abil Hasan Al Bashri rahimahullah [10], ketika Khalid bin Shafwan[11] menerangkan sifat-sifat Hasan Al Bashri kepada Maslamah bin Abdul Malik[12] dengan berkata: “Dia adalah orang yang paling sesuai antara apa yang disembunyikannya dengan apa yang ditampakkannya, paling sesuai ucapan dengan perbuatannya, kalau dia duduk di atas suatu urusan maka diapun berdiri di atas urusan tersebut…dan seterusnya”, setelah mendengar penjelasan tersebut Maslamah bin Abdul Malik berkata: “Cukuplah (keteranganmu), bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat (dalam agama mereka) kalau orang seperti ini (sifat-sifatnya) ada di tengah-tengah mereka?”[13].

Demikian pula apa yang disebutkan dalam biografi imam Abdur Rahman bin Aban bin ‘Utsman bin ‘Affan al-Qurasyi[14], bahwa beliau adalah seorang yang sangat tekun beribadah, maka suatu hari imam Ali bin Abdullah bin ‘Abbas[15] melihatnya dan kagum dengan ketekunannya beribadah, maka beliaupun meneladaninya dalam kebaikan[16].

Inilah gambaran keberkahan hidup dan manfaat keberadaan seorang pendidik di tengah masyarakatnya, terlebih lagi di tengah keluarganya, orang-orang yang paling berhak mendapatkan manfaat baik darinya.

Sebaik-baik teladan bagi keluarga muslim

Tentu saja, sebaik-baik teladan bagi keluarga muslim adalah Nabi mereka, nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Aku diutus (oleh Allah Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”[17].

Beliau r adalah orang yang paling kuat dan sempurna dalam menjalankan petunjuk Allah Ta’ala, mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya[18]. Oleh karena itulah Allah Ta’ala sendiri yang memuji keluhuran budi pekerti beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS al-Qalam:4).

Dan ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab: “Sungguh akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an”[19].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok teladan dan idola yang sempurna bagi orang-orang yang beriman kepada Allah yang menginginkan kebaikan dan keutamaan dalam hidup mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Ta’ala[20].

Kemudian setelah itu, idola yang utama bagi seorang mukmin adalah orang-orang yang teguh dalam menegakkan tauhid dan keimanan mereka, sehingga Allah Ta’ala sendiri yang memuji perbuatan mereka sebagai “suri teladan yang baik” dalam firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri (nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya (yang mengikuti petunjuknya); ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata” (QS al-Mumtahanah:4).

Ketika mengomentari ayat ini, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di i rahimahullah berkata: “Sesungguhnya keimanan dan pengharapan balasan pahala (dalam diri seorang muslim) akan memudahkan dan meringankan semua yang sulit baginya, serta mendorongnya untuk senantiasa meneladani hamba-hamba Allah yang shaleh, (utamanya) para Nabi dan Rasul ‘alahis salam, karena dia memandang dirinya sangat membutuhkan semua itu” [21].

Demikian pula para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan shaleh yang utama bagi orang yang beriman, karena Allah Ta’ala memuji mereka dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah Ta’ala dan orang-orang yang bersama dia (para sahabat) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penyayang di antara sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS al-Fath:29).

Dalam hal ini, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kamu yang ingin mengambil teladan, maka hendaknya dia berteladan dengan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di umat ini, paling dalam pemahaman (agamanya), paling jauh dari sikap berlebih-lebihan, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat nabi-Nya, maka kenalilah keutaman mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus”[22].

Pengaruh positif teladan yang baik bagi keluarga

Diantara pengaruh positif teladan yang baik adalah hikmah yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud:120).

Dalam ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an tentang ketabahan dan kesabaran para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperjuangkan dan mendakwahkan agama Allah Ta’ala sangat berpengaruh besar dalam meneguhkan hati dan keimanan orang-orang yang beriman di jalan Allah Ta’ala.

Ketika menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala berfirman: semua yang kami ceritakan padama tentang kisah para rasul ‘alaihimussalam yang terdahulu bersama umat-umat mereka, ketika mereka berdialog dan beradu argumentasi (dengan umat-umat mereka), ketabahan para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam (menghadapi) pengingkaran dan penyiksaan (dari musuh-musuh mereka), serta bagaimana Allah Ta’ala menolong golongan orang-orang yang beriman dan menghinakan musuh-musuh-Nya (yaitu) orang-orang kafir, semua ini adalah termasuk perkara yang (membantu) meneguhkan hatimu, wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar engkau bisa mengambil teladan dari saudara-saudaramu para Nabi yang terdahulu”[23].

Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah berkata: “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” [24].

Demikian pula termasuk manfaat besar teladan yang baik bagi keluarga adalah menumbuh suburkan rasa kagum dan cinta dalam diri mereka kepada orang-orang bertakwa dan mulia di sisi Allah Ta’ala, yang ini merupakan sebab utama meraih kemuliaan yang agung di sisi Allah Ta’ala, yaitu dikumpulkan bersama orang-orang shaleh tersebut di surga kelak, karena seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat nanti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”. Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata: “Kami (para sahabat) tidak pernah merasakan suatu kegembiraan (setelah masuk Islam) seperti kegembiraan kami sewaktu mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”, maka aku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan aku berharap akan (dikumpulkan oleh Allah Ta’ala) bersama mereka (di surga nanti) karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka”[25].

Penutup

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua kaum muslimin, utamanya bagi mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik anggota keluarganya.

Dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua, dan memudahkan kita menjadi penyebab kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita, utamanya keluarga kita, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 25 Sya’ban 1431 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com dan dipublikasikan kembali oleh

http://salafiyunpad.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1] HSR al-Bukhari (no. 3158) dan Muslim (no. 2638).

[2] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 392).

[3] Lihat “al-Mu’in ‘ala tahshili adabil ‘ilmi” (hal. 50) dan “Ma’alim fi thariqi thalabil ‘ilmi” (hal. 124).

[4] Lihat keterangan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsir beliau (hal. 271).

[5] Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi rahimahullah (wafat 285 H), biografi beliau rahimahullah dalam “Siyaru a’alamin nubala’” (13/356).

[6] Kitab “Shifatush shafwah” (2/409).

[7] Kitab “Hirasatul fadhiilah” (hal. 127-128).

[8] Lihat kitab “Ma’aalimu fi thariiqi thalabil ‘ilmi” (hal. 131).

[9] Lihat kitab “Fathul Qadiir” (4/454) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 492).

[10] Beliau rahimahullah adalah Imam besar dan terkenal dari kalangan Tabi’in ‘senior’ (wafat 110 H), memiliki banyak keutamaan sehingga sebagian dari para ulama menobatkannya sebagai tabi’in yang paling utama, biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (6/95) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/563).

[11] Beliau adalah Abu Bakr Khalid bin Shafwan bin Al Ahtam Al Minqari Al Bashri rahimahullah, seorang yang sangat fasih dalam bahasa Arab, biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/226).

[12] Beliau adalah Maslamah bin Abdil Malik bin Marwan bin Al Hakam rahimahullah (wafat 120 H), seorang gubernur dari Bani Umayyah, saudara sepupu Umar bin Abdul Aziz dan meriwayatkan hadits darinya, biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (27/562) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (5/241).

[13] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (2/576).

[14] Beliau adalah cucu sahabat yang mulia ‘Utsman bin ‘Affan t, seorang imam ahli ibadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 335).

[15] Beliau adalah putra sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, seorang imam ahli ibadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 403).

[16] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (5/10-11).

[17] HR Ahmad (2/381) dan al-Hakim (no. 4221), dishahihkan oleh al-Hakim rahimahullah dan disetujui oleh adz-Dzahabi rahimahullah, serta dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 45).

[18] Lihat keterangan imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab “Syarh shahih Muslim” (6/26).

[19] HSR Muslim (no. 746).

[20] Lihat keterangan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsir beliau (hal. 481).

[21] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 856).

[22] Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 1118).

[23] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (2/611).

[24] Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595).

[25] HSR al-Bukhari (no. 3485) dan Muslim (no. 2639).

Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Oase di Padang Pasir Tandus (3)

Beberapa Nasehat Abdullah Bani’mah

·        Aku menegur setiap muslim yang lalai dalam dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Selama engkau bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad shalallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah, maka engkau bertanggung jawab untuk memperjuangkan agama Allah. Engkau  akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat nanti yaitu pada hari di mana manusia datang menuntutmu. Ketika itu ada orang yang berkata, “ Mengapa engkau membiarkan aku berbuat zalim sementara engkau mengetahuinya? Mengapa engkau tidak melarangku berbuat kezaliman?” Sementara itu orang  lainnya berkata, “Engkau melihat aku dizalimi, namun mengapa engkau tidak menolongku?” Ini semua akan dimintai pertanggungjawabannya wahai saudaraku sekalian!! Wahai saudara-saudaraku, selama saya menjadi ummat Muhammad shallallahu alaihi wa salam maka tidaklah aku mendapatkan alas an untuk tidak berdakwah. Selama kita mengucapkan dua kalimat syahadat, maka kita punya  kewajiban menyampaikan risalah Islam ini kepada umat manusia.

·        Ada pesan-pesan yang ingin aku sampaikan kepada para saudaraku yang sedang tertimpa kesedihan, kegelisahan dan musibah berupa kehilangan suatu nikmat dari nikmat-nikmat Allah. Aku mengingatkan kepada mereka sesuatu yang penting, yaitu tidak disyukurinya suatu nikmat dapat menyebabkan hilangnya nikmat tersebut. Aku adalah salah satu contoh hidup yang dapat anda saksikan yaitu kehilangan sebuah nikmat dari nikmat-nikmatNYa, kehilangan nikmat bergerak.

·        Para orangtua hendaklah mendidik anak dengan keteladanan, penuh kelemahlembutan dan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Janganlah  sekali-kali mendoakan keburukan kepada mereka karena doa orangtua kepada anaknya mustajab.

·        Aku berpesan untuk diriku dan para remaja agar selalu bertaqwa kepada Allah Ta’ala, kemudian agar selalu menaati kedua orangtua. Ciumlah tangan keduanya dan mintalah maaf kepada mereka berdua.

·        Pilihlah, Anda di posisi yang mana? Semoga Allah memuliakan kita dengan mengaruniakan kepada kita sahabat-sahabat yang saleh yang mengingatkan kita kepada Allah agar hati kita menjadi suci. Sungguh hati kita ini telah dipenuhi dengan kotoran dunia. Kalau kita tidak berusaha untuk menyelamatkan hati kita dari kotoran dunia, maka kita akan binasa. Hendaklah kita koreksi diri kita sendiri, apakah pemikiran kita adalah pemikiran akhirat atau dunia?

Abu Maryam As Salafy

Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Oase di Padang Pasir Tandus (2)

Pada suatu hari ayahku datang kepadaku dan berkata tentang sesuatu hal yang aku perbuat. Yaitu sebuah perbuatan maksiat dan sebuah hal yang tidak diinginkan oleh setiap bapak terjadi pada anaknya, maka iapun berkata kepadaku, “Engkau merokok!”

Aku berkata kala itu, “Demi Allah yang Maha Agung, aku tidaklah merokok!!”

Aku bersumpah atas nama Allah bahwa aku tidak merokok, namun aku lupa dengan apa yang disabdakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang artinya:

“Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada orangtua, membunuh nyawa (orang lain), sumpah ghamus (HR Bukhari)

Sumpah ghamus adalah sumpah yang di dalamnya ia berdusta dengan sengaja. Sumpah dusta tersebut menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa dan berhak untuk diadzab dalam neraka. Sumpah ini tiada baginya tebusan kecuali taubat yang sebenar-benarnya taubat. Wahai saudaraku, jika sumpah seorang pendusta tidak ada baginya tebusan ,melainkan dengan taubat yang benar, berapa banyakkah dari ummat Islam sekarang ini yang berdusta dalam sumpahnya.

Kemudian ketika itu aku mengangkat suaraku di hadapan ayahku. Aku mempraktikkan sebuah pepatah “Yakinkanlah mereka dengan suara yang keras” karena sesungguhnya ayahku tidak melihatku merokok secara langsung. Ia hanya mendengar tentangku saja. Aku telah mengangkat suaraku padahal Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan berbuat baik kepada Ibu Bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Uf/Ah” dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang  baik” (Al Isra:23)

Subhanallah!! Kata “Uf” / “Ah” saja merupakan kedurhakaan yang paling keci yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Wahai saudaraku, bagaimanakah halnya tatkala engkau mengangkat suaramu? Tentunya perkataan yang keluar dari mulutmu itu lebih dari sekedar kata “ah”. Dan engkau telah membuat yahmu marah, “Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua.”

Sementara kematian datang sepertikilat, datang hanya di antara dua huruf saja (Kun), jadilah, kata tersebut dapat mengangkat derajat kaum yang lain, memuliakan atau menghinakan suatu kaum, melapangkan atau menyempitkan rezeki suatu kaum, mematikan atau menghidupkan, dengan kata kun saja…

Wahai saudaraku, bagaimana engkau dapat mendurhakai ayahmu atau ibumu jika engkau tidak mengetahui kapan engkau mati?

Ketika aku berkata kepadanya “Demi Allah aku tidak merokok”  dan aku mengangkat suaraku di hadapannya, jadilah suaraku itu lebih tinggi dari suaranya, padahan dia sangat yakin bahwa aku merokok. Lepaslah doa dari ayahku kepadaku, maka is berkata: “ Jika kamu berdusta, semoga Allah mematahkan lehermu.” ( Penulis risalah singkat ini berkata: Lihatlah betapa marahnya ayah Abdullah Bani’mah terhadap kelakuan anaknya yang merokok. Saya menasehati kepada para perokok berhentilah merokok dan janganlah beranggapan bahwa merokok bukan perbuatan maksiat! Bertaubatlah berhentilah merokok dan cabutlah kata-kata tersebut. Demi Allah merokok adalah perbuatan maksiat. Hadanallah wa iyyakum jami’an.)

Keesokan harinya aku pergi ke laut untuk berenang bersama adikku dan teman-temanku. Selesai berenang di laut, kami pergi ke kolam renang dekat pantai. Kolam renang masih dalam keadaan tertutup. Teman-temanku hampir pulang. Aku tidak berputus asa dan melarang mereka pulang. Aku punya ide untuk memanjat pagar. Akhirnya teman-temanku senang dengan ideku. Kami memanjat pagar dan masuk kolam renang.

Kedalaman air kolam satu setengah meter dan ada pula yang tiga meter. Tinggiku saat itu 182 cm dalam keadaan sehat wal afiat. Saat itu aku terjun melompat ke kolam renang. Allah telah menetapkan “Jadilah anda lumpuh” maka seketika itu juga aku lumpuh.

          Saat aku meluncur ke kolam renang, kepalaku membentur dasar kolam renang dan kudengar suara leher patah dengan jelas beberapa kali. Seketika itu juga aku lumpuh total tidak bisa menggerakan kepalaku………

          Setelah kejadian tersebut ayahku menyesal, menangis melihat penderitaanku. Aku tidaklah menyalahkan ayahku, aku menyalahkan diriku sendiri. Ini semua merupakan taqdir Allah yang mesti aku terima dengan ridha dan berprasangka baik kepada Allah. Ayahku mendoakanku dengan kebaikan setelah kejadian tersebut “ Allah yakhtaru laka ath thoyyib ath thoyyib” “Semoga Allah memeilihkan kebaikan untukmu,” Allah yakfika syarraka” “Semoga Allah mencukupimu dari keburukanmu” Ibuku mendoakanku Semoga Allah mengganti teman-temanmu dengan teman-teman yang saleh.” (Penyusun risalah singkat ini berkata: Dan Allah adalah Maha Mengabulkan Doa, Allah kabulkan doa ayah dan ibu Abdullah Bani’mah setelah sebelumnya Allah kabulkan doa keburukan untuknya.)

          Oase yang menyejukkan

          Tatkala ayahku mendoakan keburukan atasku, tidaklah beliau bermaksud agar aku benar-benar lumpuh. Ayahku saat itu marah yang ditimbulkan oleh setan yang berda dalam aliran daeah manusia. Meskipun kesal kepadaku ayahku tidak mempedulikan luka hatinya. Ia pergi ke rumah sakit untuk pengobatan diriku dengan harapan agar aku dapat sembuh.

Di buku ini aku mewasiatkan kepada saudara-saudaraku, hendaklah kalian tidak menjadikan para orangtua terpaksa untuk mendoakan keburukan atasmu karena doa orang tua untuk anaknya mustajab.

Bertakwalah kepada allah, wahai saudaraku sekalian, karena sesungguhnya aku adalah anak yang telah memaksa orangtua untuk mendoakan kejelekan atasku. Sekarang aku merasakan akibat yang telah aku perbuat…. Dikarenakan sumpah dusta yang aku ucapkan, dan aku telah terpedaya. Memang sesungguhnya kejujuran adalah sebuah hal yang sangat penting, Subhanallah…

          Wahai saudara-saudaraku sesungguhnya bapakku bukanlah orang yang durjana. Ia adalah orang yang senantiasa menjaga shalat dan puasanya serta selalu berdzikir pada setiap kesempatan. Namun beliau juga bukan malaikat yang tidak punya salah. Pesanku kepada siapapun yang mencintai Abdullah Bani’mah, aku tidaklah ridha kepada siapapun yang menyakiti atau menyinggung perasaannya meskipun hanya dengan satu kata saja….

 

(Penulis risalah singkat ini berkata: Setelah kejadian tersebut Abdullah Bani’mah bagaikan mengarungi padang pasir tandus akibat musibah yang dialaminya. Selama 9 bulan beliau tidak dapat berbicara, menjalani operasi sebanyak 16 kali, salah satu operasi yang dijalaninya dilakukan tanpa obat bius!!! Nas aluLlah As Salamah wal afiah. Beliau dirawat selama empat tahun dan orangtuanya telah menghabiskan jutaan real. Laa hawla wa la quwwata illa billah… Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana beliau mulai berdakwah dalam keadaan lumpuh? Silahkan baca buku ini.

Jika anda orangtua, maka buku ini merupakan salah satu panduan bagaimana menjadi orangtua yangbaik…

Jika anda seorang anak, maka buku ini adalah nasehat untuk melaksanakan birrul walidayn….

Jika anda seorang penuntut ilmu, maka buku ini Insya Allah akan memotivasi anda untuk senantiasa menuntut ilmu….

Jika anda seorang Da’i , maka buku ini akan menggugah semangat anda untuk beramar makruf nahi mungkar….

Jika anda Salafy  yang haus akan ilmu yang menyejukkan jiwa –dan saya berharap anda menyandang gelar tersebut- maka buku ini laksana oase di padang pasir tandus… dan Al Habib Al Ustadz Fariq Qosim ‘Anuz -semoga Allah senantiasa menjaganya- telah bersedia membedah buku ini di Cilegon Ahad 14 November 2010….. Semoga terlaksana dengan baik…. Kun Salafiyyan Alal Jaddah ….Jadilah Salafy Sejati)

 

Barakallahu Fikum

 

 

Abu Maryam As Salafy

Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Oase Di Padang Pasir Tandus (1)

Oase di Padang Pasir Tandus dari Buku Terbaru Ustadz Fariq Qosim ‘Anuz

Hidayah taufiq adalah hak mutlak milik Allah. Allah memberikan hidayah taufiq kepada siapa saja yang Allah kehendaki dengan cara yang hanya Allah saja yang tahu. Tidak sedikit manusia yang mendapat hidayah taufiq setelah orang tersebut berada dalam perjalanan yang penuh kelelahan, kepayahan di tandusnya padang pasir maksiat dan pedihnya musibah. Setelah itu Allah dengan keluasan Rahmatnya memberikan anugerah hidayah taufiq. Sungguh perjalanan yang melelahkan namun berakhir dengan meraih sejuknya oase.

Salah satu yang melewati padang pasir tandus tersebut adalah Abdullah Bani’mah yang tinggal di negara Saudi Arabia . Kisahnya ditulis oleh Ustadz Fariq Gasim Anuz dalam sebuah buku berjudul Saat Hidayah Menyapa. Berikut sekilas tentang buku tersebut.

Berkata Ustadz Fariq dalam pengantar buku tersebut:

Subhanallah, merupakan karunia dari Allah semata, dalam perjalanan ke Jeddah, Saudi Arabia pada awal 1431 atau awal tahun 2010, saya dapat berkenalan  – dengan izin Allah – dengan Ustadz Abdullah bin Umar Bani’mah (36 tahun). Dia seorang dai yang telah menggemparkan jutaan orang di Timur Tengah dan dengan sebabnya telah membuat ribuan para pemuda mendapatkan hidayah Allah. Beliau menderita lumpuh total, hanya kepala saja yang dapat digerakkan. Beliau ridha dan bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Beliau selalu menampakkan wajah ceria dan murah senyum di hadapan para tamu yang menengoknya. Rumahnya selalu penuh dengan pengunjung, baik yang beliau kenal maupun tamu yang tidak dikenal, yang datang dari dalam kota Jeddah maupun tamu yang tidak dikenal, yang datang dari dalam kota Jeddah maupun dari luar kota bahkan dari luar negeri. Beliau selalu menjadikan majelisnya saat berkumpul untuk mengingat Allah, mengingatkan pengunjung tentang besarnya ni’mat Allah, mengingatkan pengunjung agar sadar akan kewajiban setiap muslim untuk amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasehat, berda’wah dan memperjuangkan Islam sesuai dengan kemampuan dan kelebihan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya.

Ia tetap istiqamah menjalankan shalat lima waktu yang merupakan kewajiban setiap muslim sepanjang hayat. Sakit dan safar bukan sebagai penghalang baginya untuk bermunajat kepada Al Khaliq dan menegakkan salah satu dari rukun Islam yang lima . Meskipun sakit lumpuh total, beliau tetap rajin menuntut ilmu, baik dengan membaca Al Qur-an dan tafsirnya, atau meminta pengunjung yang datang untuk membacakan Al Qur-an, membacakan buku-buku bermanfaat, juga melalui nasehat-nasehat dari para ulama, para dai dan penuntut ilmu yang selalu rajin mengunjungi beliau. (Penyusun risalah singkat ini berkata: Dimanakah orang-orang yang berbadan tegap? Dimanakah orang-orang yang memiliki kesehatan dan waktu luang? Dimanakah orang-orang yang dikaruniai kendaraan yang nyaman? Dimanakah para manusia yang mendambakan kebahagiaan hakiki? Apakah badan dan kendaraan mereka digunakan untuk mencari kemuliaan ilmu? Apakah upaya mereka menuntut ilmu sudah sekeras upaya Abdullah Bani’mah yang lumpuh total dalam menuntut ilmu? Dimanakah posisi kita ketika berhadapan dengan ilmu? Membelakanginya-kah? Ataukah menjadikan ilmu sebagai pemimpin kita yang senantiasa berada di depan kita? Sadarkah kita bahwa lumpuh yang sebenarnya adalah kelumpuhan hati? Hadanallah wa Iyyakum.)

Beliau setelah lumpuh merasakan berada dalam puncak kebahagiaan. Kelumpuhan tubuhnya tidak mengahalanginya untuk menyeru manusia agar kembali ke jalan Allah. Ia berdakwah di dalam kota seperti mengunjungi rumah sakit, penjara, markas tentara, masjid-masjid maupun sekolah-sekolah. Beliau juga berdakwah keliling Saudi meskipun harus digotong oleh beberapa orang yang menyertainya saat bepergian dan selalu didampingi ibunya yang merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Berkata Abdullah bin Umar Bani’mah:

Aku ini seorang yang tidak memilki banyak ilmu dibandingkan dengan anda. Aku juga tidak lebih baik dari anda dalam ibadah dan akhlak. Meskipun demikian tidak menghalangiku untuk berbagi cerita dan mengingatkanku terlebih dahulu kemudian mengingatkan saudara-saudaraku kaum muslimin yang aku cintai karena Allah.

Sebelum aku mulai menceritakan kisahku, aku tidaklah ingin kisah ini nantinya hanya sebagai kisah hiburan. Sebelum aku menceritakannya hendaknya setiap diri menyayangi dan merasa kasihan kepada dirinya sendiri. Aku tidak ingin dari kisah ini agar anda menjadi kasihan kepada diriku. Alhamdulillah aku hanya berharap belas kasih dan kasih sayang Allah. Kemudian, Alhamdulillah aku telah mendapatkan kecukupan perhatian dan belas kasih serta kasih sayang dari keluargaku, kerabatku dan sahabat-sahabatku..

Kelumpuhanku sendiri, sungguh aku melihatnya sebagai karunia dan anugerah dari Allah pemilik langit dan bumi. Allah telah memebriku sebuah karunia yang tidak diterima oleh setiap orang. Tidak ada seorangpun dapat menjamin bahwasanya Allah akan memberikan kepada kita umurnya yang kedua. Namun Alhamdulillah, Allah telahmemberikan kepadaku umur yang kedua, ketiga dan keempat bahkan kelima, karena aku nyaris meninggal dunia selama empat kali. Ini merupakan kemurahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beberapa hari yang lalu datanglah Al Akh Fariq Gasim Anuz seorang da’i dari Indonesia menjengukku di rumahku di Jeddah , Saudi Arabia . (Penyusun risalah ini berkata: Beberapa hari lalu telah sampai SMS dari Ustadzuna Al Habib Fariq Gasim Anuz –semoga Allah menjaganya- memberitahukan kepada saya bahwa telah terbit buku Saat Hidayah Menyapa dan Harian Republika menampilkan resensi buku tersebut di hari Jumat 24 September 2010. Saya ucapkan selamat kepada beliau dan berdoa kepada Allah agar buku-buku beliau senantiasa bermanfaat untuk ummat. Kemudian beliau meminta alamat saya karena ingin menghadiahkan buku tersebut kepada saya. Alhamdulillah Selasa 5 Oktober 2010 buku tersebut plus VCD sampai ke rumah. Saya ucapkan Jazahullah kahiran katsira.) Aku belum pernah mengenalnya sebelum ini dan dia pun baru pertama kali berjumpa denganku. Aku dibuatnya kaget karena dia banyak mengetahui kisahku. Dia meminta izin kepadaku untuk menyusun buku tentangku dalam bahasa Indonesia .

Subhanallah, aku selama ini berharap ada seorang yang akan membukukan kisahku ini dan aku berdoa kepada Allah agar menggerakkan hati seorang hambaNya agar dimudahkan dan diberi taufiqNya untuk menyusun dan merampungkan sebuah buku tentangku. Demi Allah aku tidak menginginkan riya, popularitas maupun harta dan perkara dunia lainnya. Aku hanya berharap agar kisahku ini dapat menjadi pelajaran dan menjadi sebab kembalinya umat ke jalan Allah. Juga agar umat khusunya remaja dan pemuda Muslim bertaubat serta sadar dari kelalaian selama iini untuk bersama-sama memegang amanah untuk menjadi hamba Allah yang bertauhid, mengikuti tuntutan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, siap berkorban untuk memperjuangkan islam dan menegakkan dienullah di muka bumi ini. Akhirnya aku berdoa kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita keikhlasan dan menerima amal kita semuanya…

Abu Maryam As Salafy

Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Keutamaan 10 hari pertama bulan dzulhijjah

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA
BULAN DZUL HIJJAH
DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin
________________________________________

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Keutamaan 10 hari yang Pertama Bulan Dzul Hijjah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzul Hijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid “.

Macam-macam Amalan yang Disyariatkan

1.    Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

2.    Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya, terutama pada hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :
“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq ‘Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3.    Takbir dan Dzikir pada Hari-hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.
“Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ..”. [Al-Hajj : 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid “. [Hadits Riwayat Ahmad].
Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhum keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu”

“Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ..”. [Al-Baqarah : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan  takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

4.    Taubat serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa.

Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaq ‘Alaihi].

5.    Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. Sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radiyallahuanhu dia berkata : Rasulullah Sahallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Tidak ada hari-hari yang amal shaleh didalamnya lebih Allah cintai kecuali pada hari ini, yaitu: sepuluh hari bulan Dzulhijjah, mereka berkata : “apakah jihad fisabilillah tidak lebih utama dari itu ?”, Beliau bersabda : “tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan tidak ada yang kembali satupun [HR. Bukhori]

6.    Disyariatkan pada Hari-hari itu Takbir Muthlaq

Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7.    Berkurban pada Hari Raya Qurban dan Hari-hari Tasyriq.

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq ‘Alaihi]

8.    Dilarang Mencabut atau Memotong Rambut dan Kuku bagi orang yang hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Dalam riwayat lain : “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan  kurbannya. Firman Allah.
“Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah : 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan  bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9.    Melaksanakan Shalat Iedul Adha dan mengdengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

10.    Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1292&bagian=0

This message may contain privileged/confidential information and is intended only for the individual or entity addressed above. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email. Please notify the sender immediately if you have received this email by mistake and delete this email from your system.

PT. Krakatau Steel accepts no liability for the content of this email, or for the consequences of any actions taken on the basis of the information provided, unless that information is subsequently confirmed in writing.

PT.Krakatau Steel, Jl Industri 5 Cilegon, Banten, Indonesia, http://www.krakatausteel.com

Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Meningkatkan Nilai Ibadah Seorang Muslim

MENINGKATKAN NILAI IBADAH SEORANG MUSLIM

Oleh
Syaikh DR. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili

Bulan suci Ramadhan telah berlalu. Pelipatgandaan pahala, kemudahan dari Allah di bulan Ramadhan pergi seiring dengan kepergian tamu kita, bulan Ramadhan. Nuansa Ramadhan yang istimewa pun lewat. Tapi kaum muslimin mesti TETAP berlomba untuk menggapai rahmat dan hidayah Allah melalui peningkatan ibadah dan doa kepada-Nya, di bulan-bulan lainnya. Hanya saja, terkadang seorang muslim dihadapkan pada sekian banyak amalan yang ingin ia kerjakan semuanya. Namun kadang-kadang kesempatan, waktu dan fisik tidak memungkinkannya untuk menuntaskan segala amalan sholeh yang ia inginkan. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga, mempunyai istri (atau suami) dan anak-anak.

Dalam kondisi demikian, dipandang perlu agar seorang muslim mengetahui beberapa kaedah dalam beramal sholeh untuk memudahkan bagi dirinya dalam memilih amalan yang lebih baik dan berkualitas, lebih dicintai oleh Allah Ta’ala dan mengundang pahala yang lebih besar dibandingkan amalan lainnya. 
Urgensi aspek ini:

1.Perhatian Generasi Salaf Terhadap Masalah Ini.
Topik ini menjadi fokus perhatian ekstra dari generasi Salaf. Hasrat mereka untuk mendalami permasalahan ini sangat besar. Para sahabat menjadi teladan dengan melontarkan banyak pertanyaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi tabi’in dan para tokoh ulama Islam pun memberi porsi perhatian yang besar. Kongkretnya, tercermin dalam penulisan buku dan pembakuan kaedah dalam materi ini.

2. Ekonomis Dalam Beramal
Seorang muslim yang memahami bab ini, akan meraih kebaikan besar dalam masa yang singkat dan modal yang minim, yang dikerjakan oleh orang lain dengan waktu panjang dan tenaga besar. Hal ini penting sekali diketahui, terutama pada akhir-akhir ini yang begitu banyak kesibukan dan halangan untuk bisa beribadah dengan frekuensi yang banyak.

3. Penyimpangan Yang Dilakukan Sebagian Firqah Dalam Aspek Ini.
Sebagian firqah menyimpang dari garis sunnah lantaran kegandrungan mereka kepada bid’ah daripada sunnah Nabi. Amalan sunnah lebih diutamakan daripada kewajiban. Lebih berbahaya lagi ketika amalan bid’ah lebih disukai daripada ajaran Islam.

4. Bahaya Jerat Syaithan Terhadap Sebagian Ahli Ibadah.
Sebagian ahli ibadah tertipu oleh bisikan syaithan dengan mengamalkan amalan yang kualitasnya di bawah.

Berikut ini beberapa faktor yang bisa mempengaruhi peningkatan kualitas amalan ibadah:

TINGKATKAN KEIKHLASAN DAN PERBAIKI NIAT
Ikhlas dalam amalan merupakan tonggak asasi dalam setiap amalan sholeh. Disamping itu, juga tingkatkan unsur mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah. Dua hal ini merupakan syarat diterimanya amalan seseorang. Dalilnya, Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”. [1]

Ibnu Katsir berkata: ‘(Yaitu orang yang ) mengharapkan pahala, dan ganjaran dariNya, [فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا / hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh ] yaitu amalan yang bertepatan dengan petunjuk syariat, [ وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا / dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya ] yaitu amalan yang ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dua hal ini adalah dua syarat diterimanya amalan. Mesti murni karena Allah, lagi cocok dengan aturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ

“Dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi yang Dia kehendaki” [3].

Ibnu Katsir menjelaskan : “Berdasarkan keikhlasannya dalam beramal”. [4]

Syaikh As Sa’di berkata: “Itu bergantung pada kekuatan iman dan kesempurnaan ikhlas yang terdapat pada orang yang berinfak”[5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا

“Jika salah seorang dari kalian telah memperindah Islamnya, maka setiap kebaikan yang diamalkannya akan dicatat baginya dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat. Dan setiap kejelekan yang ia kerjakan akan dicatat baginya satu kejelekan semisalnya”. [6]

Ibnu Rajab berkata tentang hadits di atas : “Pelipatgandaan kebaikan dengan sepuluh kali lipat pasti terjadi. Sedangkan tambahan yang lebih dari itu tergantung pada kebaikan nilai Islam seseorang, dan keikhlasan niatnya, serta urgensi dan keutamaan amalan tersebut”[7].

Sebagai pelengkap dalam menetapkan naiknya tingkatan amalan yang dibarengi kekuatan ikhlas, adanya beberapa nash yang menyatakan keutamaan amalan yang dilakukan secara tersembunyi dibandingkan amalan yang dilakukan di hadapan khalayak. Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman:

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ

“Jika kalian memperlihatkan sedekah maka itu baik. Dan jika kalian menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir, niscaya lebih baik …” [8].

Ibnu Katsir berkata: “Dalam ayat ini terkandung petunjuk bahwa menyembunyikan sedekah lebih baik daripada memperlihatkannya. Sebab lebih jauh dari noda riya`. Kecuali bila dengan memperlihatkan saat mengeluarkan sedekah ada unsur maslahat yang pasti”[9].

Ibnul Qayyim menjelaskan rahasia mengapa sedekah yang dilakukan dengan sembunyi lebih baik dengan berkata: “Adapun memberikannya kepada orang-orang fakir, jika dilakukan dengan cara tersembunyi mengandung beberapa manfaat, menutupi jati dirinya (pemberi sedekah) , dan tidak membuat malu si penerima di hadapan orang banyak, tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang sedang direndahkan kehormatannya, dan supaya orang tidak melihat bahwa tangannya sufla, juga agar orang tidak berkomentar dirinya (sang penerima) tidak ada harganya sama sekali sehingga mereka enggan untuk berinteraksi dan melakukan tukar-menukar dengannya. Ini adalah manfaat tambahan selain berbuat baik kepadanya dengan memberi sedekah, di samping penjagaan aspek ikhlas.

Hal ini berlaku pada ibadah yang sifatnya tathawu’ (sunnah). 

Dari Bustham bin Huraits, ia berkata: ‘Adalah Ayyub pernah terharu (karena takut kepada Allah), sehingga air matanya keluar. Namun ia ingin menyembunyikannya. Maka ia memegangi hidungnya, bersikap seolah-oleh orang yang sedang mengalami influenza. Jika ia khawatir , air matanya semakin deras, maka ia beranjak pergi”[10]

TINGKATKAN PERHATIAN PADA ASPEK MUTABA’AH KEPADA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM BERIBADAH.
Maksud dari mutaba’ah dalam beramal adalah “menjalankan perintah Nabi dalam suatu amalan dan melaksanakannya sesuai dengan aturan syariat yang dahulu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.

Sementara Syaikhul Islam menjelaskannya dengan :

أنْ يُفْعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِيْ فَعَلَ

“Hendaknya dikerjakan persis dengan yang dilakukan Nabi sesuai dengan aturan pelaksanaannya”[11].

Jadi mutaba’ah kepada Nabi harus memenuhi dua unsur: 
a. Kesesuaian dengan Nabi dalam pelaksanaan, persis dengan tata cata beliau
b. Kesesuaian dalam niat, ditujukan untuk beribadah
Dalam point ini, maksudnya adalah penjelasan peningkatan nilai amalan yang lahir sebagai dampak dari mutaba’ah.

Topik mutaba’ah adalah pembahasan yang sangat luas. Hakikatnya, berusaha mengerjakan seluruh aturan syariat atau mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang umum. Jalan perealisasiannya, melalui kesempurnaan memahami agama, kekuatan tekad yang penuh dalam beramal -dengan bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala – ada beberapa prinsip dalam mutaba’ah yang terangkum dalam beberapa point berikut ini:

Mutaba’ah kepada Nabi dalam keseluruhan ibadah, tidak hanya menyibukkan dengan salah satu jenis ibadah saja dengan menelantarkan ibadah lainnya. Tapi ‘namanya selalu tercantum’ dalam setiap ibadah. Dengan kata lain, berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan seluruh cabang iman qalbiyyah, amaliyyah maupun qauliyyah

Disebutkan dalam hadits keutamaan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amaliah, mereka akan dipanggil dari berbagai pintu syurga. Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan orang-orang yang dipanggil dari pintu yang sesuai dengan ibadah yang ia tekuni, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu bertanya:

فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا

“Apakah ada seseorang yang dipanggil dari seluruh pintu?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

“Ya, dan aku berharap engkau termasuk mereka, wahai Abu Bakar” [12].

Mutaba’ah kepada Nabi dalam aspek kontinyuitas amalan.

Mutaba’ah kepada Nabi dengan mengerjakan amalan tanpa unsur memberatkan diri (takalluf).

Oleh karena itu, beliau melarang shaumud dahri (puasa setahun penuh) atau meninggalkan perkawinan, makanan, tidur dengan dalih memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada orang yang bersikap keras dengannya, kecuali akan terkalahkan..” [13]

Mutaba’ah kepada Nabi dengan melakukan keseimbangan (balancing) terhadap hak-hak yang ada, tidak menyisihkan salah satu hak demi pemenuhan hak lainnya. Tapi memberikan hak kepada para pemiliknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Maka, sesungguhnya bagi jasadnya ada hak atasmu, bagi matamu ada hak atasmu dan bagi istrimu ada hak atasmu dan bagi tamumu ada hak atasmu” [14]

UTAMAKAN & BERIKAN PERHATIAN EKSTRA TERHADAP AMALAN YANG WAJIB 
Amalan yang wajib lebih utama daripada amalan yang sunnah. Demikian juga, memperhatikan ibadah yang wajib lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada ibadah yang sunnah.

Abu Hurairah meriwayatkan, ia berkata: Rasulullah Sh bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ُ

“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengobarkan peperangan dengannya. Dan tidaklah ada seorang hambaKu yang mendekatkan dirinya kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya…’ [15]

Ibnu Hajar berkata: “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut, bahwa melaksanakan amalan yang wajib merupakan tindakan yang paling dicintai oleh Allah” [16].

Abu Bakar pernah berwasiat kepada Umar dengan mengatakan:

وَأنَّهُ لاَ يَـقـْـبَلُ نَافِلَةً حَتَّى تُؤَدَّى الْفَريِْضَة

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima ibadah sunnah kecuali apabila amalan ibadah yang wajib telah ditunaikan”[17].

Ibnu Taimiyah menegaskan pula: “Oleh karena itu, wajib bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang wajib sebelum menjalankan amalan yang sunnah. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang sunnah terhitung sebagai ibadah jika amalan yang wajib sudah dikerjakan”[18].

Al Hafizh Ibnu Hajar menukil dari sebagian ulama besar zaman dahulu, mereka menetapkan :

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَ مَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنِ الْفَرْضِِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Barangsiapa disibukkan dengan perkara wajib sehingga melupakan perkara sunnah, maka ia termaafkan. Barangsiapa disibukkan dengan perkara sunnah sehingga perkara wajib terbengkalai, maka ia adalah orang yang tertipu” [19]

KERJAKAN SATU AMALAN SHOLEH DENGAN KONTINYU
Faktor lain yang bisa meningkatkan nilai amaliah seseorang adalah al mudawamah (kontinyuitas dalam beramal). Amalan yang sedikit, tapi kontinyu lebih utama dari amalan yang putus-putus, tidak dikerjakan secara terus-menerus, kendati banyak.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit” [20].

Demikian pula, ini merupakan kebiasaan Rasulullah. Amaliah beliau sehari-hari diimah (kontinyu), yaitu dikerjakan secara terus menerus, tidak putus darinya. Dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu, memperingatkan dari amalan-amalan yang memberatkan yang tidak kuat dipikul oleh seseorang. Sebab hal itu rawan sekali untuk ditinggalkan sehingga tidak berlangsung lama.

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

“Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kalian sanggupi” [21]

Al Qadhi ‘Iyadh menerangkan sabda beliau dengan: Kerjakanlah amalan yang kalian sanggup untuk mengerjakannya dengan kontinyu [22]. Sementara Imam An Nawawi rahimahullah menyimpulkan dari hadits di atas: Di dalamnya terkandung anjuran untuk kontinyu dalam beribadah, dan amalan yang sedikit (tapi) kontinyu lebih baik daripada amalan banyak tapi ditinggalkan [23].

Para ulama telah memaksimalkan daya pikir untuk menyibak rahasia mengapa amalan sedikit tapi kontinyu dapat lebih utama dan mulia dibandingkan amalam lain. Di antara keterangan mereka:

Al Qurthubi berkata: “Sebabnya, amalan yang ringan, bisa dikerjakan dengan berkesinambungan dan hati yang giat, sehingga pahala semakin banyak lantaran terjadinya pengulangan amalan tersebut yang disertai oleh konsentrasi pikirannya. Berbeda dengan amalan yang berat, biasanya disertai dengan terganggunya konsentrasi dan menyebabkan seseorang meninggalkannya” [24].

Sementara itu, Imam An Nawawi memberikan alasan: “Amalan sedikit yang langgeng itu lebih baik dari amalan banyak tapi putus di jalan, karena dengan kontinyu dalam satu amalan yang sedikit, bararti ketaatannya kepada Allah juga berlangsung terus-menerus, demikian juga dzikir, muraqabah, niat, keikhjlasan serta sikapnya menghadapkan dirinya kepada Allah berjalan terus. Sehingga yang sedikit tapi kontinyu akan membuahkan hasil yang berlipat-lipat daripada amalan banyak tapi ditinggalkan”.

Adapun Ibnul Jauzi mengajukan keterangan, bahwa orang yang meninggalkan amalan setelah pernah ia lakukan bagaikan orang yang berpaling darinya sehingga pantas untuk dicela. Dan alasan kedua, orang yang senantiasa beramal, berarti ia senantiasa melakukan penghambaan diri kepada Allah. Dan orang yang sering mengetuk di satu waktu setiap harinya tidak sama dengan orang yang menunggu pintu seharian kemudian ia tinggalkan’

TINGKATKAN KAPASITAS ILMIAH ANDA
Di antara aspek yang bisa meningkatkan kualitas amaliah seseorang adalah, kemuliaan dan kedudukannya di sisi Allah.

Rasulullah bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai pahala infak mereka sebesar satu mud ataupun setengahnya”.

Al Baidhawi menerangkan hadits ini dengan berkata: Makna hadits ini, salah seorang dari kalian tidak akan mampu menggapai dengan infak sebesar gunung Uhud yang berupa emas, keutamaan dan pahala yang diraih oleh salah seorang mereka (sahabat) dengan infak satu mud atau setengahnya. Sebab perbedaan ini, kondisi yang menyertai orang yang lebih mulia yang berupa kekuatan ikhlas yang lebih tinggi dan kejujuran niat mereka.

Dengan ini, menjadi jelas keutamaan para sahabat dan amalan yang mereka lakukan dibandingkan amalan selain mereka.

Sebagian ulama telah menyinggung beberapa sebab pengutamaan dalam kaedah ini. meskipun melalui nash-nash yang ada, peningkatan nilai amaliah tergantung dari kedudukan orang yang beramal, tapi ada beberara rahasia di belakang itu, yang telah disinggung oleh sebagian ulama.

Di antaranya: Keutamaan yang mereka raih itu berangkat dari kondisi batiniah mereka yang mengalahkan orang lain. Seperti yang dikatakan Ibnu Mas’ud: Kalian itu lebih banyak puasanya dibandingkan para sahabat Muhammad, tapi mereka tetap lebih baik dari kalian. Mereka bertanya: Apa sebabnya?’. Ibnu Mas’ud menjawab:

كَانُوا أَزْهَدَ مِنْـكـُمْ فِي الدُّنـيَا وَأرْغَبَ فِي الأخِرَة

“Mereka (para sahabat) lebih zuhud kepada dunia dan lebih berharap kepada akhirat daripada kalian”.

Kedua, lantaran mereka lebih paham terhadap agama, dan itu otomatis berpengaruh pada kualitas ibadah mereka sehingga dilaksanakan dengan cara yang lebih baik.

Ini makna yang terkandung pada pernyataan Abu Darda`: Dan satu biji sawi kebaikan orang yang bertakwa dan yakin, lebih besar, lebih utama dan lebih berat timbangannya seperti beratnya gunung-gunung dibandingkan ibadah orang-orang yang tertipu’.

UTAMAKAN AMALAN SOSIAL DARIPADA AMALAN YANG MANFAATNYA TERBATAS PADA PRIBADI SEMATA
Ditinjau dari sudut kemanfaatannya bagi orang lain, amalan sholeh terkualifikasikan menjadi dua:

A. Amalan yang hanya terbatas kemanfaatannya bagi pelakunya saja, tidak bisa dinikmati oleh orang lain. Misalnya seluruh ibadah yang menjadi kendaraan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa ada kaitan dengan makhluk.

B. Amalan yang manfaatnya bisa dinikmati oleh orang lain, sehingga maslahat keagamaan dan duniawi mereka terpenuhi.

Dalam masalah pemilahan amalan sholeh, para ulama telah menetapkan bahwa amalan sholeh yang bersifat sosial lebih utama dibandingkan amalan yang manfaatnya terbatas pada pelakunya sendiri. Sebabnya, terwujudnya maslahat serta dampak positif yang dapat dirasakan oleh orang lain. Dasar penetapan mereka adalah semua dalil yang menunjukkan ketinggian nilai amal sholeh yang bersifat sosial, anjuran untuk melakukannya serta sanjungan bagi para pelakunya.

Di antaranya :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ
لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa menyeru kepada hidayah, niscaya ia mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun..” [al hadits] [25]

Hadits di atas, dengan jelas menggambarkan besarnya keutamaan menyalurkan dan mengajarkan ilmu kepada orang lain. Dan nash-nash yang senada dengan makna hadits di atas sangat banyak.

Demikian juga, terdapat dalil yang berisi sanjungan bagi orang-orang yang sering berbuat baik untuk orang lain, mereka adalah makhluk pilihan di sisi Allah. Nabi bersabda:

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik kawan di sisi Allah, ialah yang paling bermanfaat bagi kawannya. Dan sebaik-baik tetangga adalah tetangga yang paling baik bagi tetangganya” [26].

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik bagi keluarganya. Dan aku adalah orang yang terbaik bagi keluargaku”[27].

Nabi pernah bertanya kepada para sahabat tentang orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk sampai tiga kali. Namun mereka diam. Maka beliau menerangkan:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan dirasa aman keburukannya. Dan sejelek-jelek kalian adalah orang yang tidak pernah diharapkan kebaikannya dan tidak dirasa aman keburukannya”.

Hadits-hadits di atas mengindikasikan bahwa manusia pilihan di sisi Allah adalah mereka yang terbaik di mata manusia. Dan yang paling utama dari kalangan mereka di sisi Allah, adalah insan yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Kaidah ini sudah diaplikasikan oleh generasi Salaf. Mereka mengutamakan amalan yang bermanfaat bagi orang lain daripada amalan sholeh yang bersifat pribadi. 

Majjaad berkata: ‘Aku pernah menemani perjalanan Ibnu Umar untuk membantunya tapi justru dialah yang melayaniku”. Sebagian dari mereka, kalangan Salaf, bahkan mengajukan syarat saat akan melakukan perjalanan bersama dengan kawan-kawan lain agar dia saja yang melayani mereka di tengah perjalanan. Di antara mereka, ‘Amir bin Abdi Qais, ‘Amr bin Utbah bin Farqad, orang-orang yang dikenal dengan ketekunan mereka dalam beribadah.

Meskipun melayani orang lain itu makan tenaga dan waktu, tapi ternyata mereka lebih mengutamakannya. Seandainya menurut mereka ibadah qashirah itu lebih afdhal sudah mesti mereka tidak akan menyibukkan diri dengan amalan sosial tersebut. Padahal mereka adalah orang-orang yang faqih dan sangat antusias melakukan kebaikan. Artinya, amalan sosial itu lebih berharga dan bernilai menurut mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Rajab menetapkan: “Berbuat baik kepada teman perjalanan lebih baik daripada ibadah qashirah (yang manfaatnya hanya direguk secara pribadi), apalagi jika seseorang punya keinginan sendiri untuk menservis kawan-kawannya” [28]. (Red).

Petikan dari Kitab Tajridu Al Ittiba’I Fi Bayani Asbabi Tafadhuli Al A’mali karya Syaikh DR. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili, Maktabah Ulum Wal Hikam Madinah Munawwarah, Cet. I TH. 1424 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Al Kahfi : 110.
[2]. Tafsir Ibnu Katsir : 5/205.
[3]. Al Baqarah : 261
[4]. Tafsir Ibnu Katsir: 1/693
[5]. Tafsir As Sa’di : 1/157.
[6]. Shahih Al Bukhari (Fathul Bari: 1/100 hadits no: 42), Shahih Muslim : 1/118 no: 129.
[7]. Jami’ul Ulumi Wal Hikam : 1/213.
[8]. Al Baqarah: 271
[9]. Tafsir Ibnu Katsir : 1/701.
[10]. Dzammu Ar Riya` hlm. 180.
[11]. Majmu’ Al Fatawa: 1/280
[12]. HR. Bukhari (Fathul Bari : 7/19 no: 3666), Muslim (2/711 no: 1027).
[13]. HR. Bukhari (Fathul Bari : 1/93 no: 39).
[14]. Diriwayatkan Bukhari (Fathul Bari: 10/531 no: 6134), Muslim : 2/813
[15] HR. Bukhari no: 6502.
[16]. Fathul Bari : 11/343
[17]. Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah : 1/36
[18]. Majmu’ Al Fatawa : 17/133
[19]. Fathul Bari : 11/442
[20]. HR. Muslim : 1/541
[21]. HR. Bukhari (Fathul Bari : 1/101 no: 43), Muslim : 1/542 no: 758
[22]. Ikmal Al Mu’lim : 3/147
[23]. Syarah Shahih Muslim : 6/71
[24]. Al Mufhim : 2/413
[25]. HR. Muslim no: 2674.
[26] HR. At Tirmidzi no: 1944, Al Hakim dan berkata: ‘Shahih berdasarkan syarat Syaikhan’ dan disepakati oleh Adz Dzahabi
[28]. HR. Ibnu Majah no: 1977 (Ash Shahihah: 285).
Lathaiful Ma’arfi hlm. 411.

Media Dakwah Elektronik

At Tashfiyyah

التصفية

Salah satu bidang yang harus dibersihkan adalah tazkiyyah (penyucian jiwa) dan tarikh (sejarah). Sebagian orang menamakan tazkiyyah dengan istilah yang tidak benar yaitu tashawwuf. Hal ini tentu saja kekeliruan yang sangat fatal mengingat banyaknya praktek-praktek kesyirikan, bid’ah dan juga khurafat dalam tashawwuf. Salah satu tokoh yang dianggap tokoh tashawwuf adalah Syaikh Abdul Qadir Jailani –rahimahullah. Tokoh ini seringkali dihubungkan dengan cerita-cerita khurafat yang kental dengan nuansa kesyirikan. Begitu pula sejarah Islam telah banyak diselewengkan oleh orang-orang zindiq.

Dalam artikel sederhana ini akan kami kutipkan penjelasan tentang Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah dan Syaikh Abdul Qadiq Jaelani yang banyak dipuji oleh Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah. Syaikh Abdul Qadir Jaelani banyak dizholimi oleh ahlul bid’ah dengan berbohong tentang karamah-karamahnya. Tidak luput pula fitnah yang dilontarkan kepada musuh-musuh ahlussunnah terhadap Syakhul Islam Ibn Taymiyyah. Semuanya alhamdulillah telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan ilmiyyah dan jauh dari sikap fanatik serta kultus individu.

Kami mulai dengan menyingkap kedustaan terhadap Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah yang menyatakan bahwa beliau menyamakan turunnya Allah sama dengan turunnya beliau dari atas mimbar. Berikut penjelasan Syaikh Ali dalam buku At Tashfiyyah Wat Tarbiyyah.

Berkata Syaikh Ali dalam buku At Tashfiyyah hal 86-90: “Di antara cerita bohong yang dilekatkan kepada Ibn Taymiyyah oleh lawan debatnya yang keras kepala dan musuh besarnya ( Nashrun al Manbijy) yang kemudian dinukil oleh sebagian ahli tarikh, adalah : “Ketika Ibnu Taymiyyah menerangkan hadits-hadits “Nuzul” dia turun dari mimbar dan berkata : “Seperti turunku ini!! Kemudian tiba-tiba saja si pengelana yang masyhur, Ibnu Bathutah, penulis “Ar Rihlatut Tarikhiyyah al Masyhuroh” menulis kebohongan ini di dalam “Rihlahnya” (1/110) bahwa dia melihat Ibnu Taymiyyah di Masjid Al Umawy di Dimsyaq, setelah itu kebohongan tersebut dinukil oleh orang-orang bodoh yang iri dengki. (Diantara pendengki yang bodoh tersebut adalah K.H Siradjuddin Abbas dalam buku hitamnya ‘I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah’ –Abu Maryam )

Di sini tidaklah saya tengah berbicara untuk membantah kebohongan ini secara rinci, tetapi saya akan membantahnya secara global dari dua sisi:

Pertama: madzhab Ibn taymiyyah tentang asma dan shifat adalah madzhab as salafush shalih yang tergambar dalam firman Allah, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan dia Maha Mendengar, Maha melihat” (Asy Syura:11). Maka beliau menetapkan nuzulnya Allah sesuai dengan kebesaranNya dan kesempurnanNya, tidak seperti turunnya makhluk. Kita mengetahuinya dari perkataan beliau dalam majmu’ fatawa (5/262): Barangsiapa menjadikan sifat Allah seperti makhluk, istiwa Allah seperti makhluk atau turunNya seperti makhluk dan semacam itu maka orang itu adalah mubtadi’, dhal (sesat)”

Maka masihkah tersisa hujjah bagi orang yang menuduhkan kebohongan ini dan penukil-penukilnya?!

Kedua: Ibnu Bathutah menjelaskan dalam “Rihlahnya” (I/102) bahwa dia memasuki kota Damaskus pada tanggal 9 Ramadhan 728 H. Telah banyak yang membantahnya dan membongkar kedustaannya, di sini saya mencukupkan untuk menyebut seorang dari mereka ini, padahal dia terhitung di antara musuh-musuh Ibn Taymiyyah!! yaitu Syaikh Ahmad bin ash Shiddiq Al Ghumari dalam kitabnya Ju’nah al Aththor (I/75) dia menyatakan dengan terang kedustaan Ibnu Bathuthah. Padahal ketika itu Ibnu Taymiyyah tidak pernah keluar penjara sampai beliau wafat pada tanggal 20 Dzul qa’dah 728 H.

Kalau begitu bagaimana mungkin Ibnu Bathuthah melihat syikhul Islam Ibn Taymiyyah dengan kedua matanya, padahal pada hari itu beliau ditahan di penjara Qal’ah semenjak 33 hari!! Demi Allah, sesungguhnya hal ini termasuk kedustaan yang besar!!

Mungkin ada orang yang berkata atau bertanya: mengapa Ibn Bathuthah berdusta? Sebagai jawabannya, kami katakan: “Penisbatan kepada Madzhab yang dia lakukan, dan kesenangannya supaya sebuah tuduhan dilekatkan pada diri Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah yang bisa diulang-ulang oleh musuh-musuhnya, kedua hal itu pastilah mendorongnya untuk berdusta; dia bermadzhab Maliki dan menjalankan ‘tarekat’ Rifa’iyah dan seorang muqallid yang fanati serta seorang Sufi yang binasa!!

Kesimpulannya : sesungguhnya wajib untuk mentashfiyyah tarikh Islam seluruhnya dari cerita-cerita dusta semacam ini, yang di dalamnya terdapat celaan keji terhadap ulama Islam pemberi petunjuk bagi manusia. Mentashfiyyah tarikh Islam dengan mengokohkan kaidah-kaidah dan menetapkan dasar-dasar sehingga kedustaan dan khurafat tidak bisa menembus diantara kaidah-kaidah dan dasar-dasar ini, yang kemudian akan menyalakan api atau menyebabkan fitnah…. Selesai penjelasan syaikh Ali.

Daurah yang akan datang yang diisi oleh Ustadz Abu Ubaidah Insya Allah dalam rangka mentashfiyyah aspek ini: Tarikh dan Tazkiyyatun Nufus. Dua tokoh akan dibahas dalam Daurah tersebut : Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan Ibnu Taymiyyah.

At Tashfiyyah edisi mendatang Insya Allah membahas Menguak Misteri Syaikh Abdul Qadir Jaelani.

Abu Fatimah As Salafy

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

AWAS JANGAN TERTIPU

Sebagian orang tatkala merasa telah mengamalkan tauhid dan menjauhi kesyirikan serta mengamalkan al-Kitab dan as-Sunnah bahkan mendakwahkannya (atau berkecimpung di dalam lembaga Dakwah Islam Ahlus Sunnah –red) maka mereka lalai dari mengamalkan akhlak yang mulia. Perasaan (maksudnya ‘persangkaan’ –red) mereka bahwa mereka telah menguasai ilmu tauhid dengan baik telah memperdaya mereka dari memperhatikan pengamalan akhlak yang mulia. Mereka lalai dari menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka, atau minimal mereka kurang dalam menunaikan hak-hak mereka. Namun yang lebih menyedihkan lagi, bukan hanya kurang dalam menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka, bahkan mereka berbuat dzolim kepada saudara-saudara mereka dengan lisan-lisan dan tulisan-tulisan mereka. Sungguh mereka telah menggabungkan antara dua keburukan yaitu kurang dalam menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka dan berbuat dzolim terhadap mereka.

Syaikh Al-Albani berkata,

((Tauhid ini telah kita pelajari, telah kita fahami dengan baik, serta telah kita realisasikan dalam aqidah kita. Akan tetapi kesedihan telah memenuhi hatiku…., aku merasa bahwasanya kita telah tertimpa penyakit gurur (terpedaya) dengan diri sendiri tatkala kita telah sampai pada aqidah ini serta perkara-perkara yang merupakan konsekuensi dari aqidah ini yang telah kita ketahui bersama seperti beramal dengan dasar al-Kitab dan as-Sunnah dan tidak berhukum kepada selain al-Kitab dan Sunnah Nabi. Kita telah melaksanakan hal ini yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim –yaitu pemahaman yang benar terhadap tauhid dan beramal dengan al-Kitab dan as-Sunnah- yang berkaitan dengan fiqih yang dimana kaum muslimin telah terpecah menjadi beragam madzhab dan telah menempuh jalan yang berbeda-beda seiring dengan berjalannya waktu yang panjang selama bertahun-tahun.

Akan tetapi nampaknya –dan inilah yang aku ulang-ulang dalam banyak pengajian- bahwasannya dunia islam ini –dan termasuk didalamnya adalah para salafiyiin sendiri- telah lalai dari sisi yang sangat penting dari ajaran Islam yang telah kita jadikan sebagai pola pikir kita secara umum dan mencakup seluruh sisi kehidupan. Diantara sisi penting tersebut adalah akhlak yang mulia dan istiqomah dalam menempuh jalan.

Banyak dari kita tidak peduli dengan sisi ini –yaitu memperbaiki akhlak dan memperindah budi pekerti- padahal kita semua membaca dalam kitab-kitab sunnah yang shahih sabda Nabi :

إِنَّ الرَّ جُلَ لُيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ السَّاهِرَ بِاللَّيْلِ الظَّامِىءِ بِالْهَوَاجِرِ

“Sesungguhnya seseorang dengan akhlaknya yang mulia mencapai derajat orang yang begadang (karena sholat malam) dan orang yang kehausan di siang yang panas (karena puasa)”. [as-Silsilah ash-Shahihah no.794]

Kita juga membaca dalam al-Qur’an al-Karim bahwasanya bukanlah termasuk akhlak Islam adanya perselisihan diantara kaum muslimin –dan secara khusus kita yaitu diantara para salafiyin- hanya karena perkara-perkara yang semestinya tidak sampai menimbulkan perselisihan dan pertikaian. Kita membaca firman Allah tentang hal ini :

وَلاَتَنَازَعُواْ فَتَفْثَلُواْ وَتَذْ هَبَ رِيحُكُمْ

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah”. [Qs. Al-Anfaal : 46]

Sebagian orang tatkala merasa telah menjalankan sunnah dengan baik maka mereka mudah mengeluarkan orang lain dari sunnah hanya karena kesalahan-kesalahan yang masih bisa ditoleransi. Sebagian mereka menghajr saudara-saudara mereka sesama ahlus sunnah tanpa dalil yang jelas. Ini merupakan akhlak yang buruk.

Syaikh Al-Albani berkata, ((dengarlah nas-nas hadits Nabi yang berisi ancaman-ancaman yang berat bagi orang yang menghajr tanpa hak.

  تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ فَيُغْقَرُ فِي ذَلِكَ الْيَومَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللّهِ شَيْئًا إِلاَّ مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَينِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis lalu pada dua hari tersebut diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apapun kecuali orang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan maka dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai” [HR. Abu Dawud IV/279 no.4916 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani (lihat Goyatul Maram hadits no.412]

Sabda Nabi ((diampuni seluruh hamba yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun)), merupakan kabar yang menggembirakan kita, dan kita mengharapkan kebaikan dengan hadits ini, karena kita adalah para da’i yang menyeru kepada tauhid, dan kitalah yang mengangkat bendera dakwah kepada tauhid dan memberantas kesyirikan dengan segala macam bentuknya. Maka kita menyangka sebagaimana dikatakan sekarang tanpa perlu “transit”, karena kita bertauhid kepada Allah dan sama sekali tidak demikian…!!! cermatilah hadits ini, pahamilah, dan berusahalah terapkan (cocokkan) dengan kehidupan kalian sehari-hari.

  تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ فَيُغْقَرُ فِي ذَلِكَ الْيَومَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللّهِ شَيْئًا إِلاَّ مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَينِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis lalu pada dua hari tersebut diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apapun kecuali orang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan maka dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai” [HR. Abu Dawud IV/279 no.4916 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani (lihat Goyatul Maram hadits no.412]

((Tangguhkanlah kedua orang ini)) yaitu tunggu-lah dahulu, sabarlah dahulu, janganlah (mencatat) ampunan bagi mereka sampai mereka berdua berdamai dan kembali menjadi:

إِخْوَانًا عَلَاى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِيْنَ

“Saling bersaudara yang duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” [Qs. Al-Hijr : 47]

Kemudian Nabi juga  bersabda dalam hadits yang lain:

ثَلاَثَةُ لاَتَرْفَعُ لَهُمْ صَلاَتُهُم فَوقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْ مًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ وَامْرَ أَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مَتَصَارِمَانِ

“Tiga golongan yang tidak diangkat sejengkal pun sholat mereka ke atas kepala mereka, seorang lelaki yang mengimami sebuah kaum dan mereka benci kepadanya, seorang wanita yang bermalam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan dua orang yang saling memutuskan hubungan.” [HR. Ibnu Majah I/311 no.971 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashobiih no.1128]

Sabda Nabi (( dan dua orang yang saling memutuskan hubungan )) yaitu saling memutuskan hubungan dan saling menghajr.

Jika demikian maka saling memutuskan hubungan, saling menghajr, saling meninggalkan satu terhadap yang lainnya tanpa adanya sebab yang syar’i, -akan tetapi hanya karena perbedaan pendapat-, maka akibat buruk yang ditimbulkannya antara lain sholatnya tidak akan diangkat kepada Allah dan tidak diterima oleh Allah.

Sebagaimana firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الكَلِمُ وَالعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik diangkat amal yang sholeh dinaikkan-Nya.” [Qs. Fatir : 10]

Sholat kedua orang yang saling menghajr ini tidaklah diangkat kepada Allah dan tidak diterima.

Kebanyakan sikap memutuskan hubungan dan menghajr adalah dikarenakan persangkaan-persangkaan serta dugaan-dugaan (yang buruk) –yang terlintas di pikiran seseorang- terhadap saudaranya sesama muslim…” [Diterjemahkan dari Silsilah Nuur ‘ala Ad-Darb, kaset no.23]

PENUTUP

Akhirnya segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan nikmatNya kepada hamba-hambaNya. Semoga sepenggal goresan tangan ini bisa menggugah kembali semangat para pembaca sekalian untuk menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Juga menambah fokus pembaca dalam pembenahan akhlak.

اللّهُمَ اهْدِنَا لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَيَهدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أنْتَ وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لاَيَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah tunjukkanlah kami untuk berhias dengan akhlak yang terbaik karena tidak ada yang bisa menunjukkan kami kepada hal kecuali Engkau, dan jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk dan tidak ada yang bisa menjauh kami darinya kecuali Engkau”

Dan semoga kita bisa termasuk dalam orang-orang yang memperoleh janji Nabi dalam sabdanya:

أَنَازَعِيْمٌ بِِبَيْتِ فِى رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقَّا وَبِبَيْتِ فِى وَسَطِ الجَنَّةِ لِمَن تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتِ فِى أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di atas kebenaran, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun hanya bercanda, dan sebuah rumah di tempat tertinggi di surga bagi siapa yang membaguskan akhlaknya” [HR. Abu Dawud no.4802 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.1464]

Aaamin yaa Robbal ‘Aaalamiiin

Selesai dikutip oleh Tim At Tashfiyah

Insya Allah dilanjutkan dengan Perhatian Salafus Sholeh Terhadap Adab

Abu Maryam Al Bantani As Salafy

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

[Bahaya Lisan dan Hubungannya Dengan Rusaknya Muamalah Diantara Manusia]

Kebanyakan orang merasa berat untuk mengganggu atau menyakiti atau mendzolimi kaum muslimin dengan gangguan fisik, akan tetapi sangat mudah bagi mereka untuk menyakiti dengan menggunakan lisan mereka.  Renungkanlah perkataan ‘Ali al-Qori tatkala mengomentari hadits ini. (lihat hadits pada edisi sebelumnya –red) [Mungkin saja pengkaitan gangguan sang wanita dengan gangguan lisan karena kebanyakan gangguan diakibatkan oleh gangguan lisan. Dan yang paling kuat (paling terasa sakit) bagi seseorang jika diganggu dengan lisan, sebagaimana perkataan seorang penya’ir

جَرَاحَاتُ السِّنَانِ لَهَا التِئَامٌ

وَلاَ يَلتَامُ مَا جَرَحَ اللَّسَانُ

Luka-luka akibat sayatan pedang bisa sembuh

Namun tidak bisa sembuh luka akibat sayatan lisan[ Mirqootul Mafaatiih IX/200 ]

Berkata Ali al-Qori, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Ia di neraka”, karena ia telah menjalankan ibadah-ibadah yang disunnahkan namun telah melakukan gangguan yang merupakan perkara yang diharamkan dalam syari’at. Dan banyak orang yang terjerumus dalam model yang seperti ini. Bahkan sampai-sampai tatkala mereka masuk dalam masjidil haram dan tatkala mengusap rukun ka’bah yang mulia (yaitu rebut-rebutan hingga menyakiti saudaranya hanya karena ingin menjalankan perkara yang mustahab yaitu mengusap rukun ka’bah. Diantaranya juga adalah perbuatan orang-orang dzolim yang mengumpulkan harta yang haram (baik dengan mencuri, korupsi, berjudi, riba, atau yang lainnya) kemudian menyalurkan harta tersebut untuk membangun masjid, sekolah-sekolah, serta memberi makan (fakir miskin)…” [Mirqootul Mafaatiih IX/200]

Bahkan bisa jadi tatkala ditimbang maka  pahala sholat, puasa, dan sedekah mereka tidak sebanding dengan dosa kedzoliman yang mereka perbuat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُوْنَ مَا المُفْلِسُ ؟ قَالُوْا المُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَمَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسِ مِنْ أُمَّتِي يَأْ تِي يَومَ القِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامِ وَزَكَاةِ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخَطَايَا هُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian apa yang disebut dengan orang yang bangkrut?”, mereka (para shahabat) berkata, “Orang bangkrut yang ada diantara kami adalah orang yang tidak ada dirhamnya dan tidak memiliki barang”. Rasulullah berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, dan zakat. Dia datang dan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikan telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah ia dzolimi) kemudian dipikulkan kepadanya lalu ia pun dilemparkan ke neraka” [HR. Muslim IV/1997 no.2581) ( Kami sarankan kepada Ikhwan sekalian untuk membaca risalah yang ditulis Al Muhaddits Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah, beliau adalah ayahanda sekaligus guru Prof. Dr. Abdurrozzaq,  berjudul Rifqan Ahlassunnah bi Ahlissunnah, diterjemahkan Pustaka Darul Ilmi. Dalam buku ini dijelaskan secara detil dan ilmiah tentang nikmat dianugerahkannya lisan dan wajibnya menjaga lisan, Bacalah buku tersebut dan mohonlah kepada Allah agar kita dibaguskan akhlaknya dengan cara menjaga lisan –red)

(Bersambung Insya Allah)

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

[Akhlak Buruk dapat Merusak Kebaikan atau amal pelakunya. Waspadalah !!!]

Pada hakekatnya orang-orang seperti mereka ini telah menghancurkan apa yang telah mereka bangun, merusakkan amalan mereka, mereka telah menggugurkan kebaikan-kebaikan mereka tanpa mereka sadari.

Sebagian mereka bersusah payah di malam hari untuk sholat malam dan bertilawah al-Qur’an namun pada pagi harinya tidak satu kebaikan pun yang tersisa bagi mereka. Sebagian mereka telah bersusah payah mengumpulkan kebaikan-kebaikan mereka sebesar gunung dari sholat, puasa, sedekah, dzikir, dan lain sebagainya namun ternyata amalan-amalan mereka tersebut tidak sampai naik kepada Allah dikarenakan mereka telah melakukan sebagian amalan yang merupakan akhlak yang buruk. (Allahumma jannibna munkaratil akhlaq –red)

Rasulullah bersabda:

ثَلاَثَةُ لاَتَرْ فَعُ لَهُمْ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوْ سِهِمْ شَبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْ مًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا     سَا خِطٌ وَأَخَوَانِ مَتَصَارمَانِ

“Tiga golongan yang tidak diangkat sejengkalpun sholat mereka ke atas kepala mereka, seorang lelaki yang mengimani sebuah kaum dan mereka benci kepadanya, seorang wanita yang  bermalam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan dua orang bersaudara yang saling memutuskan hubungan”. [HR. Ibnu Majah I/311 no. 971 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashobiih no. 1128]

Lihatlah…., Rasulullah menegaskan bahwa dua orang yang saling menghajr (namun bukan karena hajr yang disyari’atkan) maka sholatnya tidak akan diterima oleh Allah, padahal betapa banyak orang yang menghajr karena hawa nafsunya. Ibnu Taimiyyah berkata: “Barangsiapa  yang menerapkan hajr karena hawa nafsunya, atau menerapkan hajr yang tidak diperintahkan untuk dilakukan, maka dia telah keluar dari hajr yang syar’i. Betapa banyak manusia melakukan apa yang diinginkan hawa nafsunya, tetapi mereka mengira bahwa mereka melakukannya karena Allah.” [Majmuu’ al-Fataawa 28/203-210]

Bisa jadi juga meskipun amalan-amalan mereka diterima namun kemudian mereka menghancurkan kebaikan-kebaikan mereka tersebut dengan berbagai model dosa-dosa besar yang berkaitan dengan perbuatan dzolim terhadap manusia yang lain.

Rasulullah bersabda:

وَإِنَّ سُوْءَ الخُلُقِ يُفْسِدُ العَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الخَلُّ العَسَلَ

“Dan sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal (sholeh) sebagaimana cuka yang merusak madu.” [HR. At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth (I/259 no. 850), dan al-Mu’jam al-Kabiir (X/319 no. 10777). Berkata al-Haitsami, “Pada sanadnya ada perawi yang bernama ‘Isa bin Maimuun al-Madani dan dia adalah perawi yang lemah” (Majma’ az-Zawaid VIII/24). Dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam as-Shahihah no. 907]

Berkata al-Munawi, “Rasulullah memberi isyarat bahwa seseorang hanyalah  bisa memperoleh seluruh kebaikan dan mencapai tempat yang tertinggi serta tujuan yang paling akhir adalah dengan akhlak yang mulia. Mereka (para ulama) berkata bahwa hadits ini termasuk jawami’ul kalim” [Faidhul Qodiir 3/506]

Berkata al-‘Askari, “Rasulullah menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan amalan kebajikan jika ia menggandengkannya dengan akhlak yang buruk maka akan merusak amalannya dan menggugurkan pahalanya sebagaimana seseorang yang bersedekah jika mengikutkan sedekahnya dengan al-mann (menyebut-nyebutkan sedekahnya sehingga menyakiti yang disedekahkan)”. [Faidhul Qadiir 4/113-114] (Syaikh Salim bin Ied Al Hilali hafizhahullah telah menyusun buku Penyebab Rusaknya Amal dan diterjemahkan oleh penerbit Pustaka Imam Syafi’i. Salah satu perusak amal dalam buku tersebut adalah al mann. Termasuk al mann adalah perkataan seorang majikan atau yang mengangkat pegawai kepada pegawainya: “Seandainya kamu tidak miskin dan tidak punya pekerjaan maka tidak akan saya angkat kamu sebagai pegawai.” Hal ini tentu saja menyakiti perasaan si pegawai tersebut. Termasuk al mann adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dalam buku Kayfa Akhdumul Islam yang diterjemahkan Pustaka As Sofwah Jakarta  yaitu berkeluh kesah bagi orang yang berkhidmat untuk Islam. Beliau berkata: “Hindari mengeluh dan mengadu. Karena sifat tersebut merupakan sifat al mannan (pengungkit-ungkit) kebaikan, hendaknya anda diam dan introspeksi diri” Lihat hal 37 pada buku terjemahan.  Rasulullah mengancam dengan ancaman yang dahsyat terhadap pelaku al mann ini dalam sebuah hadits yang artinya; “ Tiga orang yang tidak akan diajak bicara pada hari kiamat, tidak pula Allah melihat kepada mereka dan juga tidak mensucikannya, serta bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Hurairah berkata: ‘Beliau mengulanginya hingga tiga kali.’ Abu Dzarr berkata: ‘ Sungguh merugi mereka wahai Rasulullah?’ beliau menjawab “ Musbil (Orang yang memakai kain dibawah mata kaki), orang yang mengungkit ungkit kebaikannya, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” Hadits Riwayat Muslim. Lihat penjelasan ini pada buku Penyebab Rusaknya Amal. Alhamdulillah dengan taufiq dari Allah kami luaskan permasalahan al mann ini. Mudah mudahan bermanfaat bagi para aktivis dakwah –red)

Renungkanlah hadits berikut ini:

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللّهِ : إِنَّ فُلاَنَةً تُصَلِّي اللَّيلَ وَتَصُومَ النَّهَارِ (( وعند أحمد : إِنَّ فُلاَنَةً يُذْ كَرُمِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصِيَامِهَاوَصَدَقَتِهَا )) وَفِي لِسَانِهَا شَيْءٌ يُؤْذِي جِيْرَانَهَا سَلِيْطَةً قَالَ لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ فِي النَّارِ وَقِيْلَ لَهُ إِنَّ فُلاَنَةً تُصَلِّي المَكْتُوْبَةَ وَتَصُوْمُ رَمَصضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِالأَثْوَارِ وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ وَلاَ تُؤّْذِي أَحَدًا قَالَ هِيَ فِي الجَنَّةِ

“Dari Abu Hurairah, “Dikatakan kepada Rasulullah, Sesungguhnya si fulanah sholat malam dan berpuasa sunnah (Dalam riwayat Ahmad, “Sesungguhnya si fulanah disebutkan tentang banyaknya sholatnya, puasanya, dan sedekahnya”) namun ia mengucapkan sesuatu yang mengganggu para tetangganya, lisannya panjang?”[Berkata Ibnu Manzhur, “Jika mereka berkata  اِمْرَأَةٌ سَلِيْطَةٌ  maka maksud mereka ada dua yang pertama wanita tersebut adalah    طَوِيْلَةُ اللِّسَانِwanita yang panjang lisannya (banyak omongnya sehingga menyakiti orang lain) dan yang kedua adalah حَدِيْدَةُ اللِّسَانِ wanita yang tajam lisannya” (Lisaanul ‘Arob (VII/320))] Rasulullah berkata, “Tidak ada kebaikan padanya, dia di  neraka”. Dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya si fulanah sholat yang wajib dan berpuasa pada bulan Ramadhan serta bersedekah dengan beberapa potong susu kering, dan ia tidak memiliki kebaikan selain ini, namun ia tidak mengganggu seorangpun?” Rasulullah berkata, “Ia di surga” [HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrok (IV/183 no.7304), Ibnu Hibban (al-Ihsan XIII/77 no.5764), berkata al-Haitsami, “Dan para perawinya tsiqoh (terpercaya)” (Majma’ az-Zawaid VIII/169) dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih at-Targhib wat Tarhiib no.2560]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan disebutkan dalam al-Ihsan (XIII/77 no.5764) dalam bab:

ذِكْرُ الأَ خْبَارِ عَمَّا يَجِبُ عَلَى المَرْءِ مِنْ تَرْكِ الْوَقِيْعَةِ فِي المُسْلِمِيْنَ وَإِنْ كَانَ تَشْمِيْرُهُ فِي الطَّاعَاتِ كَثِيْرَا

“Penyebutan hadits-hadits tentang kewajiban seseorang untuk meninggalkan mengganggu kaum muslimin dengan lisannya meskipun ia bersemangat besar dalam menjalankan ketaatan-ketaatan”.

Renungkanlah kondisi wanita yang kedua, amalanya hanya pas-pasan. Ia hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan baginya dan disertai dengan sedikit sedekah, [Oleh karena itu disebutkan apa yang telah disedekahkan oleh wanita yang kedua ini (yaitu beberapa potong susu kering). Berkata Ali Al-Qori, “Penyebutan ini merupakan isyarat bahwa sedekahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan sedekah wanita yang pertama” (Mirqootul mafaatiih IX/201)] meskipun demikian ia tidak pernah mengganggu tetangganya dengan ucapannya. Serta merta Rasulullah menyatakan bahwasanya, “Ia di surga”.

Adapun wanita yang pertama maka ia telah mengganggu tetangga-tetangganya dengan lisannya?? Meskipun ia begitu bersemangat untuk sholat malam dan memperbanyak puasa sunnah serta banyaknya sedekahnya namun semuanya itu tidak bermanfaat baginya. Amalannya jadi sia-sia, pahalanya terhapus, bahkan bukan cuma itu, ia pun berhak untuk masuk ke dalam neraka !!! Lantas bagaimana lagi dengan sebagian kita yang sangat sedikit ibadahnya, tidak pernah berpuasa sunnah, apalagi sholat malam, lalu lisan kita dipenuhi dengan beraneka ragam kemaksiatan…??!! ( Kami mengajak semua yang berkecimpung di Yayasan Al Hanif Cilegon senantiasa menjaga amalan-amalan dengan cara menjaga keikhlasan dan menerapkan muamalah yang baik diantara kita sehingga waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang telah kita korbankan berbuah pahala di sisi Allah dan bukan menjadi sebab bangkrutnya kita kelak di hari akhirat disebabkan buruknya akhlak atau muamalah kita. Upaya keras kita membangun Islamic Centre hendaknya tidak  melalaikan kita dari memperbaiki akhlak kita serta istri dan anak-anak kita. Setelah kita memahami bahwa kesyirikan dapat membatalkan amalan kita maka kita jaga diri dan keluarga kita dari akhlak yang tercela yang dapat menghapus amalan-amalan. Nas alullah as salamah wal ‘afiyah –red )

Older Posts »

Kategori