Oleh: Alphin | Mei 8, 2011

Engkau dan Hawa Nafsu

Share ilmu agama(Islam), ini e-mail dari temen yahoo gw. Gak penting siapa yg kirim e-mailnya, yg penting ilmu yg bs didapat dari e-mail ini. Kalo ada yg gk sesuai dengan keyakinan(anggapan) kalian yg baca jangan marah sama gw, gw cuma share ilmu yg menurut gw perlu dishare ^_^v

Silakan menikmati…

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

Dari redakasi:

Salah satu upaya  kita menjadi Salafy adalah berupaya  mengintrospeksi diri agar setiap langkahnya berdasarkan ilmu dan bukan hawa nafsu dan senantiasa obyektif. Tulisan ini mudah-mudahan menyegarkan ingatan kita tentang pentingnya obyektifitas dalam pengamalan dan tuntutan bermanhaj Salaf. Untuk memahami isi tulisan ini butuh ketenangan dan penalaran yang mendalam wallahu a’lam. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SALAFY (kurang lebih 15 tahun lalu. Kita senantiasa berdoa agar Allah tidak membutakan kita dari kebenaran. Amin.

Berkata Ustadz Fariq Qasim Anuz dalam Fikih Nasehat:

Engkau dan Hawa Nafsu

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi Al Yamani rahimahullah (w. 1386) berkata dalam bukunya Al Qaid ila Tashih al aqaid, “Seorang muslim haruslah berpikir dan mengintrospeksi diri terhadap hawa nafsunya. Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud alaihis salam, sedangkan orang ketiga mencaci maki Umar radhiyallahu anhu atau Ali radhiyallahu anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syariat? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan dengan kepada yang lainnya lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut  sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imam tersebut. Apakah penilaianmu terhadap keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau setidaknya pemahamanmu tadi dengan cara membaca sepintas?

Misalkan engkau dapatkan dua buah hadits dimana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat Imammu yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama dengan imammu tanpa engkau peduli untuk mengetahui secara ilmiah apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif.

Misalkan engkau memperhatikan suatu masalah, dimana Imammu mempunyai suatu pendapat, dan ulama yang lain menyalahi pendapat tersebut, apakah hawa nafsumu yang lebih berperan dalam mentarjih salah satu dari dua pendapat tadi, ataukah engkau menelitinya supaya engkau dapat mengetahui mana yang lebih rajih dari keduanya, sehingga engkau dapat menjelaskan kerajihannya tersebut?

Misalkan ada seorang yang engkau cintai dan seorang yang lain engkau membencinya, keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian engkau dimintai (oleh orang lain) pendapatmu tentang perselisihan tersebut, padahal engkau tidak mengetahui duduk persoalannya sehingga engkau tidak dapat menghukuminya, dan engkau ingin meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga engkau memihak orang yang engkau cintai?

Misalkan ada tiga fatwa dari tiga ulama dalam permasalahan yang berbeda.  Satu darimu, fatwa yang kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa yang ketiga dari orang yang tidak engkau sukai, dan setelah engkau teliti kedua fatwa temanmu tersebut, maka engkau nilai keduanya benar pula, kemudian sampai berita ada seorang alim lain yang mengkritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut, dan mengingkarinya dengan sangat keras, apakah engkau mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu fatwamu, atau fatwa sahabatmu, atau fatwa orang yang engkau tidak sukai?

Misalkan engkau mengetahui seseorang berbuat kemungkaran, dan engkau berhalangan untuk mengingkarinya, kemudian sampai berita kepadamu ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan kerasnya, maka apakah anggapan baikmu itu sama apabila yang mengingkari itu temanmu atau musuhmu, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu temanmu atau musuhmu?

Periksalah dirimu, engkau dapatkan dirimu sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal dien, dan engkau dapatkan orang yang engkau benci ditimpa musibah dengan melakukan maksiat pula dan kekurangan lainnya dalam syariat yang tidak lebih berat dari musibah yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebencianmu kepada orang tersebut (disebabkan maksiat atau kekurangan dalam syariat, pent) sama dengan kebencianmu kepada dirimu sendiri, dan apakah engkau dapatkan marahmu kepada dirimu sendiri sama dengan marahmu kepadanya?

Kesimpulannya, pintu-pintu hawa nafsu tidak terhitung banyaknya…” selesai perkataan Syaikh Abdurrahman bin Yahya.

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengenai dua orang yang sedang bermusuhan, “Dan betapa banyak orang yang meyakini bahwa dia itu terzholimi dan dalam pihak yang benar dalam segala sisi, padahal tidak begitu sebenarnya. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi dan di sisi lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kezholiman sedangkan lawannya disamping memiliki kesalahan dan melakukan kezholiman di sisi yang lain memilki kebenaran dan berlaku adil, tetapi cintamu kepada sesuatu yang membuatmu buta dan tuli. Dan manusia pada umumnya mempunyai tabiat cinta kepada dirinya sendiri, yang dia lihat hanya kebaikannya saja. Dia benci kepada lawannya yang dia lihat hanya keburukannya saja, bahkan apabila cintanya kepada diri sendiri semakin besar sampai kepada tingkatan melihat keburukannya sebagai kebaikan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surat al Fathir ayat 8

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?) Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa-siapa yang Dia kehendaki, maka janganlah dirimu mereka dan menjadi sedih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Dan kadang semakin besar kebencian kepada lawannya sampai kepada tingkatan ketika melihat kebaikan lawannya ia nilai sebagai keburukan sebagaimana dikatakan:

نَظَرُوا بِعَينِ عَدَاوَةٍ وَلَو أنَّها عَينُ الرِّضَا لاستَحسَنُوا مَا استَقبَحُوا

Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut

Mata keridhaan tentu mereka kan menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk

Perbuatan bodoh ini umumnya dibarengi dengan hawa nafsu dan kezholiman, karena sesungguhnya manusia itu sangat zholim dan sangat bodoh.” (Ighatsatul lahafan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: