Oleh: Alphin | Mei 8, 2011

Pengalaman orang yg meloloskan diri dari jebakan NII

Walau ini bukan pengalaman pribadi, tapi menurut gw pengalaman ini perlu untuk dishare sama orang2 ^_^v

Oh, sama maap klo ini cuma copas dari e-mail bokap ke gw. Hehe

Nih, isi e-mailnya:

Suatu sore abis shalat maghrib, aku (om Mastuhi) ketika mau pasang kaos kaki, didatangi perempuan yg ngajak kenalan (aku pikir lumayan juga neh cewe) (kejanggalan ke-1, analisa bp, penulis). Singkat kata stlh kenalan aku diajak kerumahnya mau dikenalin ortunya (kejanggalan ke-2, pen).
Tak tahunya bukan dikenalkan ke ortunya, tetapi dirumah kosong dengan beberapa kamar laki dan kamar cewe yang terpisah dan diakuinya ini  teman temannya ada yg ngaku ustadz (kejanggalan ke-3 ,pen). Ditempat ini pula aku ditanya punya duit berapa (kejanggalan ke-4, pen), kata mereka uang 70rb yg aku punya didompet cukup tuk ke Jakarta, mereka berkata mari kita langsung ke Jkt. Waktu dah jam 2100, dgn persaan galau aku mau aja dikeler ke Jkt. Ini ada yg aneh kata si cewe kenalanku tadi berbisik kalau di Jkt ditanya punya saudara polisi atau aparat, maka harus dijawab gak punya(kejanggalan ke-5, pen).
Setelah pk 0130 nyampailah di TMII dan ada masuk jln kecil kira2 daerah Lubang Buaya, ada rumah besar dan kamar cewe dan cowo yg terpisah hanya ada papan tulis di ruangan kosong (kejanggalan ke-6, pen).
Aku disuruh istirahat dan bebersih serta diberi makan minum, nah disaat inilah aku mulai curiga gak akan menyentuh makan dan minuman yg mereka siapkan. Makanan dan minumannya aku buang (didapur secara sembunyi sembunyi) dan piring – gelas kosong aku taruh dimeja. Sampe pagi jelang subuh aku menahan kantuk dan lapar dahaga, benar juga ada lelaki yg membangunkanku sambil bertanya dah makan minum blum? Ku jawab udah, tuh piring dan gelasnya dah kosong.

Setelah shalat subuh aku dikenalkan ke 8 ustadz mereka, yg mana satu persatu memulai mendoktrinku, dimulai dari nama keluarga komplit (alamat, hp, umur, sekolah, kerja, alamat), dilanjutkan dengan doktin hijrah yg gak jelas artinya karena sebelum hijrah harus meninggalkan islam yg sebelumnya bahkan harus meninggalkan keluarganya. (kejanggalan ke-7, pen). Giliran ustadz mereka yg ke-8 inilah yg terus terang minta bayaran sejumlah uang (th 1990) rp 500rb, kontan aku bilang gak punya cash, dompetku diperiksa (nah celaka ada atm nya). Diajaklah aku ke gerai atm tuk ngambil uang tunai, eee ternyata gerai atmnya rusak (inilah kuasa Allah, makin menguatkanku tuk lepas dari cengkeraman mereka).
Aku dikeler kembali ke mess mereka, dan inilah interogasi yg menyakitkan hati, mreka bilang pokoknya harus bayar 500rb dulu baru beres, bahkan ibarat ngangkut sekarung beras maka klo nggak kuat bisa diimbal dikit demi dikit, ato terserah aku yg penting dapetin 500rb (gila dgn mencuri nipu nilep brarti gak papa) (kejanggalan ke-8, pen).

Nah buntulah jalan tuk dapatin uang dariku, akhirnya aku beranikan usul gimana klo aku diantar balik kerumahku (cilegon) dgn kawalan salah satu cowo group mreka dan jaminannya aku ku ganti semuanya termasuk uang 500rb tsb (mereka setuju, dikiranya aku dah ken hipnotisnya gara2 makan minuman mereka, padahal aku buang, dalam hati aku bersyukur inilah awal kebebasanku).

Sampailah aku dirumah kost-anku cilegon, dan itu cowok menagih janji, kontan aku jawab “ini daerah kekuasaanku, sepeser uangpun kamu gak akan aku kasih, mau apa sekarang kamu, bertengkar! mari aku ladenin”
Ngeper juga dia dengan mengancam bahwa lain hari kalo ada celaka di aku dan keluargaku maka itu salahku, aku yakinkan dia bahwa mati hidup hanya Allah yg tahu. Pergilah dia, syukur alhamdulillah aku masih dilindungi Allah.

Selanjutnya tinggalah teror dan intimidasi via HP, bahkan ada ancaman keluargamu akan diperas sampai mereka melakukan “HIJRAH” sesuai doktrin mereka. Nah aku ancam balik akupun juga bisa mendatangkan POLISI tuk menggrebek kalian. (Katanya pada awal interogasi bila aku ngaku punya saudara polisi ato aparat, maka saat itu pulalah aku dibunuh dan dilenyapkan, makanya cewe tadi wanti wanti ke aku agar nggak ngaku klo punya saudara polisi ato aprat, lihat — kejanggalan ke-5).

Itulah kisahku lepas dari keleran NII, yg menghalalkan segala cara. Dan mendekati mangsanya lewat lawan jenis dan mengajak kita “ngaji” bukan di MASJID.

Diskusikan dengan orang terdekatmu, jaga dirimu dan anak serta orang terdekatmu agar terhindar dari aliran sesat NII atau afiliasinya.

Disarikan dari pengalaman nyata salah satu team proyek kami.

May,6th-2011
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: