Oleh: Alphin | Mei 8, 2011

Perbedaan Nasehat dan Ghibah

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

Dalam sebuah majelis ilmu, seorang ustadz ditanya dalam bentuk secarik kertas dengan sebuah pertanyaan atau permohonan nasehat. Inti pertanyaan tersebut bahwasanya ada sebuah yayasan yang di dalamnya anggota yayasan tersebut cenderung memberi nasehat dengan melalui perantaraan ustadz. Ustadz tersebut tentu saja menyatakan bahwa cara seperti ini tidak ada masalah sama sekali.

Wallahu a’lam, memberi nasehat bisa dilakukan dengan meminta tolong kepada orang lain dan hal ini bukanlah termasuk ghibah yang diharamkan syariat. Para ulama sebagai pewaris Nabi telah menjelaskan dengan penjelasan yang mendetail tentang haramnya ghibah sekaligus menjelaskan tentang keutamaan nasehat. Mereka para ulama hafizhahumullah telah menjelaskan rincian tentang perbedaan ghibah dan nasehat.

Diantara ulama yang menjelaskan perincian ghibah adalah Al Imam An Nawawi rahmatullah alaihi rahmatan wasiatan. Al Imam rahimahullah dalam kitab riyadhus shalihin memberi rincian tentang ghibah yang diperbolehkan. Ustadz Fariq Qasim Anuz menukil penjelasan Imam Nawawi dalam bukunya Fikih Nasehat, atau kunjungi blog beliau http://fariqgasimanuz.wordpress.com/ . Buku ini pernah dibedah tahun 2007 di Masjid Asy Syuhada BBS 3 oleh Ustadz Fariq. Berikut ini saya nukilkan penukilan Ustadz Fariq tentang perbedaan Nasehat dan Ghibah. Perlu kita sadari bahwa nasehat adalah amalan mulia bahkan merupakan salah satu pilar agama Islam bahkan Islam itu sendiri. Adapun ghibah merupakan kemaksiatan besar. Kedua amalan tersebut bisa dilakukan dengan lisan kita. Semoga bermanfaat dan semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa saling menasehati dengan ikhlas serta hikmah dalam penyampaian dan takut kepada adzab Allah dalam masalah ghibah dan senantiasa berijtihad memperbaiki akhlak dengan menjaga lisan kita, begitu pula istri serta anak-anak kita.

Berkata Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah:

Telah banyak buku-buku yang menjelaskan tentang ghibah dan keharamannya dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah yang shahih, maka sekarang penyusun hanya akan menukilkan apa-apa yang diperbolehkan dari ghibah, yaitu dalam rangka memberi nasehat, dan penjelasan ulama mengenai perbedaan antara nasehat dan ghibah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata
Ketahuilah bahwasanya ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar dan syar’i, di mana tidak mungkin sampai kepada tujuan tersebut, kecuali dengan cara berghibah, yang demikian itu disebabkan beberapa perkara :

Dalam rangka memberi peringatan kepada kaum muslimin dari keburukan dan dalam rangka memberi nasehat kepada mereka, dan yang demikian itu dalam kondisi-kondisi berikut ini.

Di antaranya, dalam rangka menjarh (meyebutkan cacat) para majruhin (orang-orang yang disebutkan cacatnya) dari para rawi hadits dan saksi, dan yang demikian itu diperbolehkan berdasarkan ijma’ kaum muslimin, bahkan bisa menjadi wajib hukumnya.

Dan di antaranya pula dalam rangka musyawarah yang berhubungan dengan ikatan tali perkawinan dengan seseorang, atau dalam hal kerjasama, atau dalam hal titipan kepada seseorang, atau bergaul, atau dalam hal bertetangga dengannya, atau dalam hal lainnya, dan wajib atas orang yang diajak untuk bermusyawarah untuk terus terang menyebutkan keadaan orang tersebut dan tidak boleh ia menyembunyikannya, bahkan ia harus menyebutkan kekurangan yang ada padanya dengan niat untuk memberi nasehat.

Dan di antaranya, apabila ia melihat seorang penuntut ilmu mondar-mandir mendatangi majelis ahli bid’ah, atau seorang yang fasik, dan menimba ilmu darinya, maka dia takut kalau-kalau si penuntut ilmu tersebut terpengaruh dan berakibat negatif kepadanya, maka ia harus menasehatinya dengan menjelaskan keadaan ahli bid’ah atau orang fasik tersebut, dengan syarat semata-mata maksudnya adalah nasehat, dan ini termasuk dari apa-apa yang disalahgunakan padanya. Karena terkadang yang mendorong si pembicara tadi untuk berbicara adalah faktor hasad, dan ini adalah perangkap iblis kepada orang tersebut, dikhayalkan kepadanya bahwa yang ia sampaikan adalah nasehat, hendaklah hal ini diperhatikan dengan baik.

Dan di antaranya, apabila seorang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan, sedang ia tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, bisa disebabkan karena memang ia tidak pantas menduduki jabatan tersebut, atau karena ia itu adalah orang yang fasik atau ia orang yang lalai, dan yang semacamnya, maka wajib untuk memberitahukan hal ini kepada atasan orang tadi agar atasan tersebut memecatnya dan menggantikannya dengan orang yang pantas, atau atasan yang mengetahui ketidakberesan bawahannya ia dapat membuat kebijaksanaan yang adil sesuai dengan kondisi bawahannya, serta ia berusaha untuk memberi motivasi kepadanya agar tetap istiqamah, selalu berjalan di atas relnya atau kalau memang tidak bisa, ia menggantikannya dengan orang lain.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: