Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Kemudahan dari Ar Rozzaq: Jalan Menuju Kemuliaan Akhlaq (4)

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

[Akhlak Buruk dapat Merusak Kebaikan atau amal pelakunya. Waspadalah !!!]

Pada hakekatnya orang-orang seperti mereka ini telah menghancurkan apa yang telah mereka bangun, merusakkan amalan mereka, mereka telah menggugurkan kebaikan-kebaikan mereka tanpa mereka sadari.

Sebagian mereka bersusah payah di malam hari untuk sholat malam dan bertilawah al-Qur’an namun pada pagi harinya tidak satu kebaikan pun yang tersisa bagi mereka. Sebagian mereka telah bersusah payah mengumpulkan kebaikan-kebaikan mereka sebesar gunung dari sholat, puasa, sedekah, dzikir, dan lain sebagainya namun ternyata amalan-amalan mereka tersebut tidak sampai naik kepada Allah dikarenakan mereka telah melakukan sebagian amalan yang merupakan akhlak yang buruk. (Allahumma jannibna munkaratil akhlaq –red)

Rasulullah bersabda:

ثَلاَثَةُ لاَتَرْ فَعُ لَهُمْ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوْ سِهِمْ شَبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْ مًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا     سَا خِطٌ وَأَخَوَانِ مَتَصَارمَانِ

“Tiga golongan yang tidak diangkat sejengkalpun sholat mereka ke atas kepala mereka, seorang lelaki yang mengimani sebuah kaum dan mereka benci kepadanya, seorang wanita yang  bermalam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan dua orang bersaudara yang saling memutuskan hubungan”. [HR. Ibnu Majah I/311 no. 971 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashobiih no. 1128]

Lihatlah…., Rasulullah menegaskan bahwa dua orang yang saling menghajr (namun bukan karena hajr yang disyari’atkan) maka sholatnya tidak akan diterima oleh Allah, padahal betapa banyak orang yang menghajr karena hawa nafsunya. Ibnu Taimiyyah berkata: “Barangsiapa  yang menerapkan hajr karena hawa nafsunya, atau menerapkan hajr yang tidak diperintahkan untuk dilakukan, maka dia telah keluar dari hajr yang syar’i. Betapa banyak manusia melakukan apa yang diinginkan hawa nafsunya, tetapi mereka mengira bahwa mereka melakukannya karena Allah.” [Majmuu’ al-Fataawa 28/203-210]

Bisa jadi juga meskipun amalan-amalan mereka diterima namun kemudian mereka menghancurkan kebaikan-kebaikan mereka tersebut dengan berbagai model dosa-dosa besar yang berkaitan dengan perbuatan dzolim terhadap manusia yang lain.

Rasulullah bersabda:

وَإِنَّ سُوْءَ الخُلُقِ يُفْسِدُ العَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الخَلُّ العَسَلَ

“Dan sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal (sholeh) sebagaimana cuka yang merusak madu.” [HR. At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth (I/259 no. 850), dan al-Mu’jam al-Kabiir (X/319 no. 10777). Berkata al-Haitsami, “Pada sanadnya ada perawi yang bernama ‘Isa bin Maimuun al-Madani dan dia adalah perawi yang lemah” (Majma’ az-Zawaid VIII/24). Dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam as-Shahihah no. 907]

Berkata al-Munawi, “Rasulullah memberi isyarat bahwa seseorang hanyalah  bisa memperoleh seluruh kebaikan dan mencapai tempat yang tertinggi serta tujuan yang paling akhir adalah dengan akhlak yang mulia. Mereka (para ulama) berkata bahwa hadits ini termasuk jawami’ul kalim” [Faidhul Qodiir 3/506]

Berkata al-‘Askari, “Rasulullah menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan amalan kebajikan jika ia menggandengkannya dengan akhlak yang buruk maka akan merusak amalannya dan menggugurkan pahalanya sebagaimana seseorang yang bersedekah jika mengikutkan sedekahnya dengan al-mann (menyebut-nyebutkan sedekahnya sehingga menyakiti yang disedekahkan)”. [Faidhul Qadiir 4/113-114] (Syaikh Salim bin Ied Al Hilali hafizhahullah telah menyusun buku Penyebab Rusaknya Amal dan diterjemahkan oleh penerbit Pustaka Imam Syafi’i. Salah satu perusak amal dalam buku tersebut adalah al mann. Termasuk al mann adalah perkataan seorang majikan atau yang mengangkat pegawai kepada pegawainya: “Seandainya kamu tidak miskin dan tidak punya pekerjaan maka tidak akan saya angkat kamu sebagai pegawai.” Hal ini tentu saja menyakiti perasaan si pegawai tersebut. Termasuk al mann adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dalam buku Kayfa Akhdumul Islam yang diterjemahkan Pustaka As Sofwah Jakarta  yaitu berkeluh kesah bagi orang yang berkhidmat untuk Islam. Beliau berkata: “Hindari mengeluh dan mengadu. Karena sifat tersebut merupakan sifat al mannan (pengungkit-ungkit) kebaikan, hendaknya anda diam dan introspeksi diri” Lihat hal 37 pada buku terjemahan.  Rasulullah mengancam dengan ancaman yang dahsyat terhadap pelaku al mann ini dalam sebuah hadits yang artinya; “ Tiga orang yang tidak akan diajak bicara pada hari kiamat, tidak pula Allah melihat kepada mereka dan juga tidak mensucikannya, serta bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Hurairah berkata: ‘Beliau mengulanginya hingga tiga kali.’ Abu Dzarr berkata: ‘ Sungguh merugi mereka wahai Rasulullah?’ beliau menjawab “ Musbil (Orang yang memakai kain dibawah mata kaki), orang yang mengungkit ungkit kebaikannya, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” Hadits Riwayat Muslim. Lihat penjelasan ini pada buku Penyebab Rusaknya Amal. Alhamdulillah dengan taufiq dari Allah kami luaskan permasalahan al mann ini. Mudah mudahan bermanfaat bagi para aktivis dakwah –red)

Renungkanlah hadits berikut ini:

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللّهِ : إِنَّ فُلاَنَةً تُصَلِّي اللَّيلَ وَتَصُومَ النَّهَارِ (( وعند أحمد : إِنَّ فُلاَنَةً يُذْ كَرُمِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصِيَامِهَاوَصَدَقَتِهَا )) وَفِي لِسَانِهَا شَيْءٌ يُؤْذِي جِيْرَانَهَا سَلِيْطَةً قَالَ لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ فِي النَّارِ وَقِيْلَ لَهُ إِنَّ فُلاَنَةً تُصَلِّي المَكْتُوْبَةَ وَتَصُوْمُ رَمَصضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِالأَثْوَارِ وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ وَلاَ تُؤّْذِي أَحَدًا قَالَ هِيَ فِي الجَنَّةِ

“Dari Abu Hurairah, “Dikatakan kepada Rasulullah, Sesungguhnya si fulanah sholat malam dan berpuasa sunnah (Dalam riwayat Ahmad, “Sesungguhnya si fulanah disebutkan tentang banyaknya sholatnya, puasanya, dan sedekahnya”) namun ia mengucapkan sesuatu yang mengganggu para tetangganya, lisannya panjang?”[Berkata Ibnu Manzhur, “Jika mereka berkata  اِمْرَأَةٌ سَلِيْطَةٌ  maka maksud mereka ada dua yang pertama wanita tersebut adalah    طَوِيْلَةُ اللِّسَانِwanita yang panjang lisannya (banyak omongnya sehingga menyakiti orang lain) dan yang kedua adalah حَدِيْدَةُ اللِّسَانِ wanita yang tajam lisannya” (Lisaanul ‘Arob (VII/320))] Rasulullah berkata, “Tidak ada kebaikan padanya, dia di  neraka”. Dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya si fulanah sholat yang wajib dan berpuasa pada bulan Ramadhan serta bersedekah dengan beberapa potong susu kering, dan ia tidak memiliki kebaikan selain ini, namun ia tidak mengganggu seorangpun?” Rasulullah berkata, “Ia di surga” [HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrok (IV/183 no.7304), Ibnu Hibban (al-Ihsan XIII/77 no.5764), berkata al-Haitsami, “Dan para perawinya tsiqoh (terpercaya)” (Majma’ az-Zawaid VIII/169) dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih at-Targhib wat Tarhiib no.2560]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan disebutkan dalam al-Ihsan (XIII/77 no.5764) dalam bab:

ذِكْرُ الأَ خْبَارِ عَمَّا يَجِبُ عَلَى المَرْءِ مِنْ تَرْكِ الْوَقِيْعَةِ فِي المُسْلِمِيْنَ وَإِنْ كَانَ تَشْمِيْرُهُ فِي الطَّاعَاتِ كَثِيْرَا

“Penyebutan hadits-hadits tentang kewajiban seseorang untuk meninggalkan mengganggu kaum muslimin dengan lisannya meskipun ia bersemangat besar dalam menjalankan ketaatan-ketaatan”.

Renungkanlah kondisi wanita yang kedua, amalanya hanya pas-pasan. Ia hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan baginya dan disertai dengan sedikit sedekah, [Oleh karena itu disebutkan apa yang telah disedekahkan oleh wanita yang kedua ini (yaitu beberapa potong susu kering). Berkata Ali Al-Qori, “Penyebutan ini merupakan isyarat bahwa sedekahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan sedekah wanita yang pertama” (Mirqootul mafaatiih IX/201)] meskipun demikian ia tidak pernah mengganggu tetangganya dengan ucapannya. Serta merta Rasulullah menyatakan bahwasanya, “Ia di surga”.

Adapun wanita yang pertama maka ia telah mengganggu tetangga-tetangganya dengan lisannya?? Meskipun ia begitu bersemangat untuk sholat malam dan memperbanyak puasa sunnah serta banyaknya sedekahnya namun semuanya itu tidak bermanfaat baginya. Amalannya jadi sia-sia, pahalanya terhapus, bahkan bukan cuma itu, ia pun berhak untuk masuk ke dalam neraka !!! Lantas bagaimana lagi dengan sebagian kita yang sangat sedikit ibadahnya, tidak pernah berpuasa sunnah, apalagi sholat malam, lalu lisan kita dipenuhi dengan beraneka ragam kemaksiatan…??!! ( Kami mengajak semua yang berkecimpung di Yayasan Al Hanif Cilegon senantiasa menjaga amalan-amalan dengan cara menjaga keikhlasan dan menerapkan muamalah yang baik diantara kita sehingga waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang telah kita korbankan berbuah pahala di sisi Allah dan bukan menjadi sebab bangkrutnya kita kelak di hari akhirat disebabkan buruknya akhlak atau muamalah kita. Upaya keras kita membangun Islamic Centre hendaknya tidak  melalaikan kita dari memperbaiki akhlak kita serta istri dan anak-anak kita. Setelah kita memahami bahwa kesyirikan dapat membatalkan amalan kita maka kita jaga diri dan keluarga kita dari akhlak yang tercela yang dapat menghapus amalan-amalan. Nas alullah as salamah wal ‘afiyah –red )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: