Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Memahami Akhlaq

Media Dakwah At Tashfiyyah

Bidang Dakwah Al Hanif

التصفية

…karena umat tidak akan pernah jaya tanpa tashfiyah dan tarbiyah

Berkata Faqihuz Zaman Al Imam Muhammad Al Utsaimin Rahimahullah:

`Al Khuluq  الخلق (bentuk tunggal dari akhlaq) artinya perangai atau kelakuan, yakni sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama: “Gambaran bathin seseorang.” Karena pada dasarnya manusia itu mempunyai dua gambaran:

1.     Gambaran zhahir   صورة ظاهرة  (luar): yaitu bentuk penciptaan yang telah Allah jadikan padanya sebuah tubuh. Dan gambaran zhahir tersebut diantaranya ada yang indah dan bagus, ada yang jelek dan buruk, dan ada pula yang berada pada pertengahan di antara keduanya atau biasa-biasa saja.

2.     Gambaran bathin صورة باطنة (dalam): Yaitu suatu keadaan yang melekat kokoh dalam jiwa, yang keluar darinya perbuatan-perbuatan, baik yang terpuji maupun yang buruk (yang dapat) dilakukan tanpa berpikir atau kerja otak.

Dan gambaran ini juga ada yang baik jika memang keluar dari akhlaq yang baik, dan ada pula yang buruk jika keluar dari akhlaq yang buruk. Inilah yang kemudian disebut dengan nama “khuluq” atau akhlaq. Jadi khuluq atau akhlaq adalah gambaran bathin yang telah ditetapkan pada seseorang. Dan wajib bagi setiap muslim untuk berperilaku dengan akhlak yang mulia ini. Karena sesuatu yang berharga dari tiap-tiap benda merupakan sesuatu yang baik dari benda tersebut, dan diantaranya adalah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Muadz bin Jabal:

إياك وكرائم أموالهم

“Dan hati-hatilah dari harta-harta mereka yang berharga” (HR Bukhari dan Muslim)

Yakni ketika Nabi Shallallahu alaihi  wasallam memerintahkannya untuk mengambil zakat dari penduduk Yaman.

Maka setiap orang harus berusaha agar hati atau gambaran bathinnya menjadi mulia. Sehingga ia mencintai kemuliaan dan keberanian, juga mencintai sikap santun dan kesabaran. Ketika bertemu dengan sesama hendaknya ia menampakkan wajah yang berseri-seri, hati yang lapang, dan jiwa yang tenang. Dan semua sifat-sifat diatas merupakan bagian dari akhlaq mulia. Telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقا

أخرجه أبو داود رقم4682 , و الترمذي 1162 , وهو في صحيح الجامع رقم1230 , 1232

 

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya” ( HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Maka sudah sewajarnya jika pembicaraan ini selalu berada di depan mata seorang mukmin. Karena jika seseorang mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menjadi figur yang sempurna keimanannya kecuali dengan memperbaiki akhlaqnya, maka hal ini akan menjadi sebuah pendorong baginya untuk berperilaku dengan akhlak yang baik dan sifat-sifat yang tinggi mulia, serta ia akan meninggalkan perbuatan yang rendah dan hina.

Akhlaq mulia antar sifat alami dan usaha

Sebagaimana akhlaq merupakan sebuah tabiat atau ketetapan asli, maka akhlaq juga bisa diperoleh atau diupayakan dengan jalan berusaha. Maksudnya bahwa seorang manusia sebagaimana telah ditetapkan padanya akhlaq yang baik dan bagus, sesungguhnya memungkinkan baginya untuk berperilaku dengan akhlaq yang baik dengan jalan berusaha dan berupaya membiasakannya.

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Asyaj Abdul qais

 إن فيك لخلقين يحبهما الله : الحلم والأناة

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai: sifat santun dan tidak tergesa-gesa”

قال يا رسول الله , أهما خلقان تخلقت بهما , أم جبلني الله عليهما , قال ( بل جبلك الله عليهما ) . فقال : الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

 أخرجه أبو داود رقم5225 , وأحمد 4/206

Asyaj berkata: Wahai Rasulullah, apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allah yang telah menetapkan keduanya padaku? Beliau menjawab: Allahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu. Kemudian Asyaj berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yang dicintai olehNya dan RasulNya.

Maka hal ini menunjukkan bahwa akhlaq terpuji dan mulia bisa berupa perilaku alami ( yakni karunia dari Allah kepada hambaNya) dan juga dapat berupa sifat yang dapat diupayakan.

(Jika orang  yang menganggap remeh masalah muamalah dengan Allah berdalih dengan mengatakan, “Ini urusan saya dengan Allah! Bukan urusanmu! Yang penting saya tidak merugikan dan menyakiti orang!” maka orang yang menganggap remeh masalah muamalah dengan manusia berdalih dengan mengatakan, “Ini kan sudah tabiat atau karakter saya! Tiap orang memiliki karakter berbeda-beda! ” Penjelasan Syaikh Al Utsaimin rahimahullah ini Insya Allah dapat meluruskan kekeliruan orang yang berdalil dengan tabiat atau karakter ketika mempraktekkan keburukan adab dan akhlaq. Kami memohon taufiq dari Allah agar kami diberi kekuatan untuk memiliki akhlaq mulia –red )

Mohon maaf pembahasan Akhlaq orang kafir kami tunda sampai pembahasan berikut ini selesai: Siapakah yang lebih utama: orang yang dinugerahi Allah sifat terpuji atau berupaya berijtihad mendapatkan akhlaq mulia?

Dikutip dari terjemahan e book Makarimul Akhlaq dari blog abu salma oleh:

Abu Maryam As Salafy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: