Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Mentashfiyyah Cerita Dusta tentang Ibn Taymiyyah

Media Dakwah Elektronik

At Tashfiyyah

التصفية

Salah satu bidang yang harus dibersihkan adalah tazkiyyah (penyucian jiwa) dan tarikh (sejarah). Sebagian orang menamakan tazkiyyah dengan istilah yang tidak benar yaitu tashawwuf. Hal ini tentu saja kekeliruan yang sangat fatal mengingat banyaknya praktek-praktek kesyirikan, bid’ah dan juga khurafat dalam tashawwuf. Salah satu tokoh yang dianggap tokoh tashawwuf adalah Syaikh Abdul Qadir Jailani –rahimahullah. Tokoh ini seringkali dihubungkan dengan cerita-cerita khurafat yang kental dengan nuansa kesyirikan. Begitu pula sejarah Islam telah banyak diselewengkan oleh orang-orang zindiq.

Dalam artikel sederhana ini akan kami kutipkan penjelasan tentang Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah dan Syaikh Abdul Qadiq Jaelani yang banyak dipuji oleh Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah. Syaikh Abdul Qadir Jaelani banyak dizholimi oleh ahlul bid’ah dengan berbohong tentang karamah-karamahnya. Tidak luput pula fitnah yang dilontarkan kepada musuh-musuh ahlussunnah terhadap Syakhul Islam Ibn Taymiyyah. Semuanya alhamdulillah telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan ilmiyyah dan jauh dari sikap fanatik serta kultus individu.

Kami mulai dengan menyingkap kedustaan terhadap Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah yang menyatakan bahwa beliau menyamakan turunnya Allah sama dengan turunnya beliau dari atas mimbar. Berikut penjelasan Syaikh Ali dalam buku At Tashfiyyah Wat Tarbiyyah.

Berkata Syaikh Ali dalam buku At Tashfiyyah hal 86-90: “Di antara cerita bohong yang dilekatkan kepada Ibn Taymiyyah oleh lawan debatnya yang keras kepala dan musuh besarnya ( Nashrun al Manbijy) yang kemudian dinukil oleh sebagian ahli tarikh, adalah : “Ketika Ibnu Taymiyyah menerangkan hadits-hadits “Nuzul” dia turun dari mimbar dan berkata : “Seperti turunku ini!! Kemudian tiba-tiba saja si pengelana yang masyhur, Ibnu Bathutah, penulis “Ar Rihlatut Tarikhiyyah al Masyhuroh” menulis kebohongan ini di dalam “Rihlahnya” (1/110) bahwa dia melihat Ibnu Taymiyyah di Masjid Al Umawy di Dimsyaq, setelah itu kebohongan tersebut dinukil oleh orang-orang bodoh yang iri dengki. (Diantara pendengki yang bodoh tersebut adalah K.H Siradjuddin Abbas dalam buku hitamnya ‘I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah’ –Abu Maryam )

Di sini tidaklah saya tengah berbicara untuk membantah kebohongan ini secara rinci, tetapi saya akan membantahnya secara global dari dua sisi:

Pertama: madzhab Ibn taymiyyah tentang asma dan shifat adalah madzhab as salafush shalih yang tergambar dalam firman Allah, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan dia Maha Mendengar, Maha melihat” (Asy Syura:11). Maka beliau menetapkan nuzulnya Allah sesuai dengan kebesaranNya dan kesempurnanNya, tidak seperti turunnya makhluk. Kita mengetahuinya dari perkataan beliau dalam majmu’ fatawa (5/262): Barangsiapa menjadikan sifat Allah seperti makhluk, istiwa Allah seperti makhluk atau turunNya seperti makhluk dan semacam itu maka orang itu adalah mubtadi’, dhal (sesat)”

Maka masihkah tersisa hujjah bagi orang yang menuduhkan kebohongan ini dan penukil-penukilnya?!

Kedua: Ibnu Bathutah menjelaskan dalam “Rihlahnya” (I/102) bahwa dia memasuki kota Damaskus pada tanggal 9 Ramadhan 728 H. Telah banyak yang membantahnya dan membongkar kedustaannya, di sini saya mencukupkan untuk menyebut seorang dari mereka ini, padahal dia terhitung di antara musuh-musuh Ibn Taymiyyah!! yaitu Syaikh Ahmad bin ash Shiddiq Al Ghumari dalam kitabnya Ju’nah al Aththor (I/75) dia menyatakan dengan terang kedustaan Ibnu Bathuthah. Padahal ketika itu Ibnu Taymiyyah tidak pernah keluar penjara sampai beliau wafat pada tanggal 20 Dzul qa’dah 728 H.

Kalau begitu bagaimana mungkin Ibnu Bathuthah melihat syikhul Islam Ibn Taymiyyah dengan kedua matanya, padahal pada hari itu beliau ditahan di penjara Qal’ah semenjak 33 hari!! Demi Allah, sesungguhnya hal ini termasuk kedustaan yang besar!!

Mungkin ada orang yang berkata atau bertanya: mengapa Ibn Bathuthah berdusta? Sebagai jawabannya, kami katakan: “Penisbatan kepada Madzhab yang dia lakukan, dan kesenangannya supaya sebuah tuduhan dilekatkan pada diri Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah yang bisa diulang-ulang oleh musuh-musuhnya, kedua hal itu pastilah mendorongnya untuk berdusta; dia bermadzhab Maliki dan menjalankan ‘tarekat’ Rifa’iyah dan seorang muqallid yang fanati serta seorang Sufi yang binasa!!

Kesimpulannya : sesungguhnya wajib untuk mentashfiyyah tarikh Islam seluruhnya dari cerita-cerita dusta semacam ini, yang di dalamnya terdapat celaan keji terhadap ulama Islam pemberi petunjuk bagi manusia. Mentashfiyyah tarikh Islam dengan mengokohkan kaidah-kaidah dan menetapkan dasar-dasar sehingga kedustaan dan khurafat tidak bisa menembus diantara kaidah-kaidah dan dasar-dasar ini, yang kemudian akan menyalakan api atau menyebabkan fitnah…. Selesai penjelasan syaikh Ali.

Daurah yang akan datang yang diisi oleh Ustadz Abu Ubaidah Insya Allah dalam rangka mentashfiyyah aspek ini: Tarikh dan Tazkiyyatun Nufus. Dua tokoh akan dibahas dalam Daurah tersebut : Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan Ibnu Taymiyyah.

At Tashfiyyah edisi mendatang Insya Allah membahas Menguak Misteri Syaikh Abdul Qadir Jaelani.

Abu Fatimah As Salafy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: