Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Oase Di Padang Pasir Tandus (1)

Oase di Padang Pasir Tandus dari Buku Terbaru Ustadz Fariq Qosim ‘Anuz

Hidayah taufiq adalah hak mutlak milik Allah. Allah memberikan hidayah taufiq kepada siapa saja yang Allah kehendaki dengan cara yang hanya Allah saja yang tahu. Tidak sedikit manusia yang mendapat hidayah taufiq setelah orang tersebut berada dalam perjalanan yang penuh kelelahan, kepayahan di tandusnya padang pasir maksiat dan pedihnya musibah. Setelah itu Allah dengan keluasan Rahmatnya memberikan anugerah hidayah taufiq. Sungguh perjalanan yang melelahkan namun berakhir dengan meraih sejuknya oase.

Salah satu yang melewati padang pasir tandus tersebut adalah Abdullah Bani’mah yang tinggal di negara Saudi Arabia . Kisahnya ditulis oleh Ustadz Fariq Gasim Anuz dalam sebuah buku berjudul Saat Hidayah Menyapa. Berikut sekilas tentang buku tersebut.

Berkata Ustadz Fariq dalam pengantar buku tersebut:

Subhanallah, merupakan karunia dari Allah semata, dalam perjalanan ke Jeddah, Saudi Arabia pada awal 1431 atau awal tahun 2010, saya dapat berkenalan  – dengan izin Allah – dengan Ustadz Abdullah bin Umar Bani’mah (36 tahun). Dia seorang dai yang telah menggemparkan jutaan orang di Timur Tengah dan dengan sebabnya telah membuat ribuan para pemuda mendapatkan hidayah Allah. Beliau menderita lumpuh total, hanya kepala saja yang dapat digerakkan. Beliau ridha dan bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Beliau selalu menampakkan wajah ceria dan murah senyum di hadapan para tamu yang menengoknya. Rumahnya selalu penuh dengan pengunjung, baik yang beliau kenal maupun tamu yang tidak dikenal, yang datang dari dalam kota Jeddah maupun tamu yang tidak dikenal, yang datang dari dalam kota Jeddah maupun dari luar kota bahkan dari luar negeri. Beliau selalu menjadikan majelisnya saat berkumpul untuk mengingat Allah, mengingatkan pengunjung tentang besarnya ni’mat Allah, mengingatkan pengunjung agar sadar akan kewajiban setiap muslim untuk amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasehat, berda’wah dan memperjuangkan Islam sesuai dengan kemampuan dan kelebihan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya.

Ia tetap istiqamah menjalankan shalat lima waktu yang merupakan kewajiban setiap muslim sepanjang hayat. Sakit dan safar bukan sebagai penghalang baginya untuk bermunajat kepada Al Khaliq dan menegakkan salah satu dari rukun Islam yang lima . Meskipun sakit lumpuh total, beliau tetap rajin menuntut ilmu, baik dengan membaca Al Qur-an dan tafsirnya, atau meminta pengunjung yang datang untuk membacakan Al Qur-an, membacakan buku-buku bermanfaat, juga melalui nasehat-nasehat dari para ulama, para dai dan penuntut ilmu yang selalu rajin mengunjungi beliau. (Penyusun risalah singkat ini berkata: Dimanakah orang-orang yang berbadan tegap? Dimanakah orang-orang yang memiliki kesehatan dan waktu luang? Dimanakah orang-orang yang dikaruniai kendaraan yang nyaman? Dimanakah para manusia yang mendambakan kebahagiaan hakiki? Apakah badan dan kendaraan mereka digunakan untuk mencari kemuliaan ilmu? Apakah upaya mereka menuntut ilmu sudah sekeras upaya Abdullah Bani’mah yang lumpuh total dalam menuntut ilmu? Dimanakah posisi kita ketika berhadapan dengan ilmu? Membelakanginya-kah? Ataukah menjadikan ilmu sebagai pemimpin kita yang senantiasa berada di depan kita? Sadarkah kita bahwa lumpuh yang sebenarnya adalah kelumpuhan hati? Hadanallah wa Iyyakum.)

Beliau setelah lumpuh merasakan berada dalam puncak kebahagiaan. Kelumpuhan tubuhnya tidak mengahalanginya untuk menyeru manusia agar kembali ke jalan Allah. Ia berdakwah di dalam kota seperti mengunjungi rumah sakit, penjara, markas tentara, masjid-masjid maupun sekolah-sekolah. Beliau juga berdakwah keliling Saudi meskipun harus digotong oleh beberapa orang yang menyertainya saat bepergian dan selalu didampingi ibunya yang merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Berkata Abdullah bin Umar Bani’mah:

Aku ini seorang yang tidak memilki banyak ilmu dibandingkan dengan anda. Aku juga tidak lebih baik dari anda dalam ibadah dan akhlak. Meskipun demikian tidak menghalangiku untuk berbagi cerita dan mengingatkanku terlebih dahulu kemudian mengingatkan saudara-saudaraku kaum muslimin yang aku cintai karena Allah.

Sebelum aku mulai menceritakan kisahku, aku tidaklah ingin kisah ini nantinya hanya sebagai kisah hiburan. Sebelum aku menceritakannya hendaknya setiap diri menyayangi dan merasa kasihan kepada dirinya sendiri. Aku tidak ingin dari kisah ini agar anda menjadi kasihan kepada diriku. Alhamdulillah aku hanya berharap belas kasih dan kasih sayang Allah. Kemudian, Alhamdulillah aku telah mendapatkan kecukupan perhatian dan belas kasih serta kasih sayang dari keluargaku, kerabatku dan sahabat-sahabatku..

Kelumpuhanku sendiri, sungguh aku melihatnya sebagai karunia dan anugerah dari Allah pemilik langit dan bumi. Allah telah memebriku sebuah karunia yang tidak diterima oleh setiap orang. Tidak ada seorangpun dapat menjamin bahwasanya Allah akan memberikan kepada kita umurnya yang kedua. Namun Alhamdulillah, Allah telahmemberikan kepadaku umur yang kedua, ketiga dan keempat bahkan kelima, karena aku nyaris meninggal dunia selama empat kali. Ini merupakan kemurahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beberapa hari yang lalu datanglah Al Akh Fariq Gasim Anuz seorang da’i dari Indonesia menjengukku di rumahku di Jeddah , Saudi Arabia . (Penyusun risalah ini berkata: Beberapa hari lalu telah sampai SMS dari Ustadzuna Al Habib Fariq Gasim Anuz –semoga Allah menjaganya- memberitahukan kepada saya bahwa telah terbit buku Saat Hidayah Menyapa dan Harian Republika menampilkan resensi buku tersebut di hari Jumat 24 September 2010. Saya ucapkan selamat kepada beliau dan berdoa kepada Allah agar buku-buku beliau senantiasa bermanfaat untuk ummat. Kemudian beliau meminta alamat saya karena ingin menghadiahkan buku tersebut kepada saya. Alhamdulillah Selasa 5 Oktober 2010 buku tersebut plus VCD sampai ke rumah. Saya ucapkan Jazahullah kahiran katsira.) Aku belum pernah mengenalnya sebelum ini dan dia pun baru pertama kali berjumpa denganku. Aku dibuatnya kaget karena dia banyak mengetahui kisahku. Dia meminta izin kepadaku untuk menyusun buku tentangku dalam bahasa Indonesia .

Subhanallah, aku selama ini berharap ada seorang yang akan membukukan kisahku ini dan aku berdoa kepada Allah agar menggerakkan hati seorang hambaNya agar dimudahkan dan diberi taufiqNya untuk menyusun dan merampungkan sebuah buku tentangku. Demi Allah aku tidak menginginkan riya, popularitas maupun harta dan perkara dunia lainnya. Aku hanya berharap agar kisahku ini dapat menjadi pelajaran dan menjadi sebab kembalinya umat ke jalan Allah. Juga agar umat khusunya remaja dan pemuda Muslim bertaubat serta sadar dari kelalaian selama iini untuk bersama-sama memegang amanah untuk menjadi hamba Allah yang bertauhid, mengikuti tuntutan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, siap berkorban untuk memperjuangkan islam dan menegakkan dienullah di muka bumi ini. Akhirnya aku berdoa kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita keikhlasan dan menerima amal kita semuanya…

Abu Maryam As Salafy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: