Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Oase di Padang Pasir Tandus (2)

Pada suatu hari ayahku datang kepadaku dan berkata tentang sesuatu hal yang aku perbuat. Yaitu sebuah perbuatan maksiat dan sebuah hal yang tidak diinginkan oleh setiap bapak terjadi pada anaknya, maka iapun berkata kepadaku, “Engkau merokok!”

Aku berkata kala itu, “Demi Allah yang Maha Agung, aku tidaklah merokok!!”

Aku bersumpah atas nama Allah bahwa aku tidak merokok, namun aku lupa dengan apa yang disabdakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang artinya:

“Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada orangtua, membunuh nyawa (orang lain), sumpah ghamus (HR Bukhari)

Sumpah ghamus adalah sumpah yang di dalamnya ia berdusta dengan sengaja. Sumpah dusta tersebut menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa dan berhak untuk diadzab dalam neraka. Sumpah ini tiada baginya tebusan kecuali taubat yang sebenar-benarnya taubat. Wahai saudaraku, jika sumpah seorang pendusta tidak ada baginya tebusan ,melainkan dengan taubat yang benar, berapa banyakkah dari ummat Islam sekarang ini yang berdusta dalam sumpahnya.

Kemudian ketika itu aku mengangkat suaraku di hadapan ayahku. Aku mempraktikkan sebuah pepatah “Yakinkanlah mereka dengan suara yang keras” karena sesungguhnya ayahku tidak melihatku merokok secara langsung. Ia hanya mendengar tentangku saja. Aku telah mengangkat suaraku padahal Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan berbuat baik kepada Ibu Bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Uf/Ah” dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang  baik” (Al Isra:23)

Subhanallah!! Kata “Uf” / “Ah” saja merupakan kedurhakaan yang paling keci yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Wahai saudaraku, bagaimanakah halnya tatkala engkau mengangkat suaramu? Tentunya perkataan yang keluar dari mulutmu itu lebih dari sekedar kata “ah”. Dan engkau telah membuat yahmu marah, “Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua.”

Sementara kematian datang sepertikilat, datang hanya di antara dua huruf saja (Kun), jadilah, kata tersebut dapat mengangkat derajat kaum yang lain, memuliakan atau menghinakan suatu kaum, melapangkan atau menyempitkan rezeki suatu kaum, mematikan atau menghidupkan, dengan kata kun saja…

Wahai saudaraku, bagaimana engkau dapat mendurhakai ayahmu atau ibumu jika engkau tidak mengetahui kapan engkau mati?

Ketika aku berkata kepadanya “Demi Allah aku tidak merokok”  dan aku mengangkat suaraku di hadapannya, jadilah suaraku itu lebih tinggi dari suaranya, padahan dia sangat yakin bahwa aku merokok. Lepaslah doa dari ayahku kepadaku, maka is berkata: “ Jika kamu berdusta, semoga Allah mematahkan lehermu.” ( Penulis risalah singkat ini berkata: Lihatlah betapa marahnya ayah Abdullah Bani’mah terhadap kelakuan anaknya yang merokok. Saya menasehati kepada para perokok berhentilah merokok dan janganlah beranggapan bahwa merokok bukan perbuatan maksiat! Bertaubatlah berhentilah merokok dan cabutlah kata-kata tersebut. Demi Allah merokok adalah perbuatan maksiat. Hadanallah wa iyyakum jami’an.)

Keesokan harinya aku pergi ke laut untuk berenang bersama adikku dan teman-temanku. Selesai berenang di laut, kami pergi ke kolam renang dekat pantai. Kolam renang masih dalam keadaan tertutup. Teman-temanku hampir pulang. Aku tidak berputus asa dan melarang mereka pulang. Aku punya ide untuk memanjat pagar. Akhirnya teman-temanku senang dengan ideku. Kami memanjat pagar dan masuk kolam renang.

Kedalaman air kolam satu setengah meter dan ada pula yang tiga meter. Tinggiku saat itu 182 cm dalam keadaan sehat wal afiat. Saat itu aku terjun melompat ke kolam renang. Allah telah menetapkan “Jadilah anda lumpuh” maka seketika itu juga aku lumpuh.

          Saat aku meluncur ke kolam renang, kepalaku membentur dasar kolam renang dan kudengar suara leher patah dengan jelas beberapa kali. Seketika itu juga aku lumpuh total tidak bisa menggerakan kepalaku………

          Setelah kejadian tersebut ayahku menyesal, menangis melihat penderitaanku. Aku tidaklah menyalahkan ayahku, aku menyalahkan diriku sendiri. Ini semua merupakan taqdir Allah yang mesti aku terima dengan ridha dan berprasangka baik kepada Allah. Ayahku mendoakanku dengan kebaikan setelah kejadian tersebut “ Allah yakhtaru laka ath thoyyib ath thoyyib” “Semoga Allah memeilihkan kebaikan untukmu,” Allah yakfika syarraka” “Semoga Allah mencukupimu dari keburukanmu” Ibuku mendoakanku Semoga Allah mengganti teman-temanmu dengan teman-teman yang saleh.” (Penyusun risalah singkat ini berkata: Dan Allah adalah Maha Mengabulkan Doa, Allah kabulkan doa ayah dan ibu Abdullah Bani’mah setelah sebelumnya Allah kabulkan doa keburukan untuknya.)

          Oase yang menyejukkan

          Tatkala ayahku mendoakan keburukan atasku, tidaklah beliau bermaksud agar aku benar-benar lumpuh. Ayahku saat itu marah yang ditimbulkan oleh setan yang berda dalam aliran daeah manusia. Meskipun kesal kepadaku ayahku tidak mempedulikan luka hatinya. Ia pergi ke rumah sakit untuk pengobatan diriku dengan harapan agar aku dapat sembuh.

Di buku ini aku mewasiatkan kepada saudara-saudaraku, hendaklah kalian tidak menjadikan para orangtua terpaksa untuk mendoakan keburukan atasmu karena doa orang tua untuk anaknya mustajab.

Bertakwalah kepada allah, wahai saudaraku sekalian, karena sesungguhnya aku adalah anak yang telah memaksa orangtua untuk mendoakan kejelekan atasku. Sekarang aku merasakan akibat yang telah aku perbuat…. Dikarenakan sumpah dusta yang aku ucapkan, dan aku telah terpedaya. Memang sesungguhnya kejujuran adalah sebuah hal yang sangat penting, Subhanallah…

          Wahai saudara-saudaraku sesungguhnya bapakku bukanlah orang yang durjana. Ia adalah orang yang senantiasa menjaga shalat dan puasanya serta selalu berdzikir pada setiap kesempatan. Namun beliau juga bukan malaikat yang tidak punya salah. Pesanku kepada siapapun yang mencintai Abdullah Bani’mah, aku tidaklah ridha kepada siapapun yang menyakiti atau menyinggung perasaannya meskipun hanya dengan satu kata saja….

 

(Penulis risalah singkat ini berkata: Setelah kejadian tersebut Abdullah Bani’mah bagaikan mengarungi padang pasir tandus akibat musibah yang dialaminya. Selama 9 bulan beliau tidak dapat berbicara, menjalani operasi sebanyak 16 kali, salah satu operasi yang dijalaninya dilakukan tanpa obat bius!!! Nas aluLlah As Salamah wal afiah. Beliau dirawat selama empat tahun dan orangtuanya telah menghabiskan jutaan real. Laa hawla wa la quwwata illa billah… Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana beliau mulai berdakwah dalam keadaan lumpuh? Silahkan baca buku ini.

Jika anda orangtua, maka buku ini merupakan salah satu panduan bagaimana menjadi orangtua yangbaik…

Jika anda seorang anak, maka buku ini adalah nasehat untuk melaksanakan birrul walidayn….

Jika anda seorang penuntut ilmu, maka buku ini Insya Allah akan memotivasi anda untuk senantiasa menuntut ilmu….

Jika anda seorang Da’i , maka buku ini akan menggugah semangat anda untuk beramar makruf nahi mungkar….

Jika anda Salafy  yang haus akan ilmu yang menyejukkan jiwa –dan saya berharap anda menyandang gelar tersebut- maka buku ini laksana oase di padang pasir tandus… dan Al Habib Al Ustadz Fariq Qosim ‘Anuz -semoga Allah senantiasa menjaganya- telah bersedia membedah buku ini di Cilegon Ahad 14 November 2010….. Semoga terlaksana dengan baik…. Kun Salafiyyan Alal Jaddah ….Jadilah Salafy Sejati)

 

Barakallahu Fikum

 

 

Abu Maryam As Salafy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: