Oleh: Alphin | Mei 9, 2011

Surat dari Rasulullah kepada Heraklius

Posted by abu on Apr 6, ’08 9:16 AM for everyone
        Pertama-tama kita mengingat zaman terjadinya kisah ini yaitu di negeri syam pada pemerintahan Romawi, kisah ini terjadi setelah kisah perjanjian Hudaibiyah. Dan ketika berjalannya perjanjian tersebut terjadilah suatu perjalanan yang dilakukan oleh orang-orang Qurais yang dipimpin oleh Abu Sofyan untuk berdagang, dan dalam waktu ini pula terjadi peristiwa yang bersejarah bersamaan dengan perjalanan Abu Sufyan kenegri Syam. ini merupakan kisah sejarah yang sangat penting dimana pada saat itu Rasulullah salallahu alaihi wa sallam, Mengirim surat dari Madinah ditujukan untuk raja Heraklius yang merupakan pemimpin kekaisaran romawi pada waktu itu, dan isi surat itu adalah mengajak raja heraklius itu untuk masuk kedalam Islam, kita bisa memahami bagaimana dakwah Rasulullah untuk menunjukkan orang kepada islam.

Apa yang dilakukan oleh raja Heraklius ketika sampainya surat itu, maka ketika dia membacanya, dia mengutus kepada orang-orangnya untuk mencari siapa orang-orang Arab pada waktu itu yang sedang ada atau berdomisli dinegeri Syam. Maka ketika di utus orang-orangnya mereka mendapatkan sekelompok orang yang datang dari Mekkah untuk berdagang, mereka inilah orang-orang Qurais yang dipimpin oleh Abu Sofyan, pada saat itu mereka adalah orang musyrik, belum masuk dalam islam. Maka mereka dipanggil untuk hadir di parlemen Heraklius.

Selain sekelompok orang-orang arab yang dipimpin oleh abu sofyan, Pada saat itu hadir pula pembesar-pembesar Heraklius dan orang-orang penting romawi, maka Heraklius pun memanggil seorang penerjemahnya untuk menerjemahkan dialog yang dilakukannya dengan sekelompok orang-orang arab ini. Lalu heraklius mengatakan tanyakan kepada mereka siapa yang paling dekat nasabnya dengan Muhammad yang mengklaim dirinya sebagai seorang nabi di negeri Arab maka pada saat itu Abu Sufyan menyatakan bahwa akulah yang paling dekat nasabnya dengan Muhammad.

Maka Heraklius mengatakan dekatkan dia kemajelis ini, demikian juga kawan-kawannya dekatkan dibelakangnya, sehingga Abu Sofyan didepan dan yang lainnya dibelakang, lalu Heraklius mengatakan kepada penerjemahnya beritahukan kepada Abu Sofyan dan kawan-kawannya bahwa aku akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada Abu Sofyan. Dan beritahukanlah kepada kawan-kawannya jika pernyataanya tidak sesuai dengan kenyataan maka beritahulah aku bahwa dia dusta dan benarkanlah apa yang ia ucapkan.

Sebelum kita menyebutkan dialog antara Heraklius dengan Abu Sofyan ini, dan kawan-kawannya ini cobalah kita membayangkan bahwasanya di parlemen tersebut, dimajelis yang agung dimajelis yang tertinggi itu telah hadir Raja Heraklius, dan disisinya pula dihadirkan para pembesar-pembesarnya. Kemudian dihadapannya dihadirkan Abu Sofyan dan kawan-kawannya yang sudah siap dilontarkan pertanyaan pertanyaan, berkaitan dengan surat yang telah sampai kepadanya, dimana isi surat itu adalah mengajak heraklius untuk masuk kedalam islam.

Pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada Abu Sofyan adalah bagaimana nasab orang ini diantara kalian, maka Abu Sofyan menyatakan bahwa dia adalah orang yang memiliki nasab yang mulia dalam bangsa arab

Kemudian pertanyaan yang kedua, dan perhatikan apa dibalik pertanyaan yang kedua ini karena ini merupakan kunci dari surat yang telah sampai kepadanya. Heraklius menyatakan apakah ada orang sebelumnya yang telah menyatakan apa yang telah ia ucapkan itu (pengakuan bahwa ia adalah seorang nabi). Maka abu sofyan menyatakan bahwa Tidak.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah apakah dia adalah berasal dari keturunan raja, maka abu sofyan menyatakan Tidak.

Kemudian bertanya lagi Heraklius, apakah pengikutnya itu merupakan orang-orang besar, terpandang?, maka Abu Sofyan menyatakan tidak.

Kemudian bertanya lagi apakah pengikutnya orang-orang yang mulia, para pembesar-pembesar? Maka Abu Sofyan menyatakan tidak, pengikutnya adalah orang-orang miskin dan orang-orang lemah.

Kemudian Heraklius bertanya lagi apakah pengikutnya itu bertambah terus menerus atau semakin berkurang, maka Abu Sofyan menyatakan bahwa pengikutnya semakin hari semakin bertambah terus.

Heraklius bertanya lagi apakah ada diantara mereka murtad meninggalkan agamanya karena membenci agama baru itu, maka Abu Sofyan menyatakan tidak.

Kemudian bertanya lagi apakah kalian menuduh dia berdusta atas apa yang di ucapkan bahwa dia adalah seorang nabi? sebelum dia meyatakan bahwa dia adalah seorang nabi apakah dulunya dia adalah seorang pendusta. Maka Abu Sofyan menyatakan tidak.

Kemudian Abu Sofyan ditanya lagi apakah dia suka menghianati perjanjian. Maka Abu Sofyan menyatakan tidak, setahu kami dia tidak pernah berhianat dalam melakukan perjanjian, dan sekarang ini kami sedang melakukan perjanjian dengannya, namun kami tidak tahu apa yang setelah ini dia lakukan.

Heraklius kembali lagi bertanya apakah kalian memerangi mereka. Maka Abu Sofyan menyatakan benar kami memerangi mereka. Lalu ditanya, bagaimana hasil dari pertempuran yang kalian lakukan dengan mereka. Maka abu sofyan menyatakan bahwa bila kami berperang, kadang kami yang menang, kadang mereka pula yang menang.

Lalu ditanya lagi, karena dia adalah seorang Nabi, kalian diperintahkan apa oleh Muhammad itu? Abu Sofyan mengatakan dia mengajak kami dan mengatakan sembahlah Allah semata dan janganlah kalian mensyarikatkannya dengan sesuatu pun, dia juga mengatakan tinggalkan apa yang diucapkan oleh nenek-nenek moyang kalian (menyembah berhala), diapun menyuruh kami untuk menegakkan sholat, berlaku jujur, besikap iffak dan senantiasa menyambung silaturrahmi.

Nah disini ada pertanyaan yang terlontar, mengapa Heraklius menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini, apa tujuannya. Nah tujuannya adalah untuk mengecek kebenaran apa yang diklaim oleh Muhammad, apakah benar-benar dia adalah seorang nabi atau ini hanyalah dusta. Yang nantinya akan nampak dari alasan-alasan Heraklius menanykan pertanyaan tersebut.

Setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut dan jawaban-jawaban yang diucapkan oleh Abu Sofyan barulah Heraklius menjelaskan apa maksud dan tujuan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut

Heraklius menjelaskan aku bertanya kepadamu tentang nasabnya diantara kalian bagaimana nasabnya, dan kamu menyatakan bahwa dia menyatakan bahwa dia memiliki nasab yang mulia, orang terpandang, maka demikianlah para nabi-nabi di utus ditengah-tengah kaumnya dari nasab-nasab yang tinggi.

Kemudian aku tanyakan kepadamu apakah ada orang-orang sebelumnya yang telah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi, maka kamu mengatakan bahwa tidak, maka demikianlah apabila ada sebelumnya diantara keluarganya yang menyatakan perkataan tersebut, bisa saja ia hanya ikut-ikutan mengklaim dirinya sebagai seorang nabi.

Kemudian aku tanyakan kepadamu apakah ada bapak ataupun kakek dia (keturunannya) adalah seorang raja, maka kamu menyatakan tidak, maka demikianlah jika sekiranya ada bapak atau kakeknya adalah seorang raja maka mungkin saja ia mengucapkan perkataan tersebut hanya ingin mencari kerajaan ataupun kekuasaan keturunannya

Aku kemudian bertanya kepadamu apakah kalian sebelum ia mengaku sebagi seorang nabi kalian menuduhnya berdusta, dan engkau menyatakan tidak, maka aku sungguh tau bahwa seorang Nabi itu tidak akan pernah berdusta kepada manusia apalagi berdusta atas nama Tuhan.

Aku bertanya kepadamu tentang pengikut-pengikutnya, apakah pengikutnya itu adalah pembesar-pembesar dan pejabat atau orang-orang lemah dan miskin, maka kamu menyatakan bahwa pengikutnya adalah orang-orang lemah dan miskin. Dan demikianlah pengikut para nabi-nabi dari kalangan orang-orang lemah dan miskin.

Kemudian aku bertanya tentang pengikut-pengikutnya apakah semakin bertambah atau berkurang, dan anda mengatakan semakin bertambah, maka demikianlah akan semakin bertambah dan bertambah terus sampai menjadi sempurna.

Dan aku bertanya apakah ada diantara mereka yang keluar dari agamanya karena membenci agamanya, maka kamu katakana tidak, maka demikianlah keimanan kalau sudah bersatu dengan hati dia tidak akan bisa lagi keluar .

Kemudian aku tanyakan tentang keadaanya apakah dia pernah berkhianat, maka engkau menyatakan tidak maka demikianlah para Rasul-Rasul Allah tidak ada yang pernah berkhianat.

Kemudian aku menanyakan kepadamu apa yang dia perintahkan kepada kalian, maka anda menyatakan bahwa dia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang untuk melakukan perbuatan kesyirikan dan diapun mengajak untuk melaksanakan ibadah sholat, bersikap jujur, besikap iffak, dan menyambung silaturrahmi.

Maka perhatikanlah apa yang dikatakan oleh heraklius setelah penjelasan ini, Apa yang dikatakan oleh Heraklius setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut, sementara dalam majelis tersebut ada pembesar-pembesar Romawi yang hadir di tempat tersebut.

Berkata heraklius kepada abu sofyan, Jika yang kamu terangkan itu betul semuanya, niscaya dia akan memerintah sampai ketempat aku berpijak di kedua telapak kakiku ini. Sesungguhnya aku telah tahu bahwa ia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir diantara kamu sekalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, aku akan mencuci kedua telapak kakinya.

Kembali kita perhatikan apa yang di ucapkan Heraklius ketika itu sementara dia adalah seorang raja dari sebuah kekuasaan terbesar yang menyatukan banyak bangsa-bangsa pada waktu itu dia mengatakan bahwa kalau benar apa yang diucapkan oleh abu sofyan, maka Muhammad Salallahu Alaihi Wa Sallam akan menguasai kerajaannya dan akan menyingkirkan dia dari kerajaannya.

Dan apa yang di ucapkan setelah itu. Heraklius seorang raja romawi kemudian mengucapkan :”Jika seandainya aku tau jalan menuju ketempatnya maka aku akan mengusahakan hal tersebut untuk bisa menuju tempatnya, dan jika aku menemuinya maka aku akan mencuci kedua kakinya”

Saya  ingin kita berhenti sejenak untuk menyimak kisah yang sangat menarik ini, kisah ini bukanlah salah satu diantara dongeng-dongeng yang diceritakan dari buku-buku sejarah begitu saja tapi ini adalah kisah yang dituliskan dalam kitab yang paling shahih yaitu shahih bukhori.

Setelah dialog tersebut diapun memanggil untuk dihadirkan surat yang dikirim oleh Muhammad Salallahu alaihi wa sallam kepada heraklius kemudian membacakan surat tersebut kepada para hadirin. Isi surat tersebut :

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dari Muhammad, Rasulullah, untuk Heraklius, Penguasa Romawi. Salam sejahtera semoga selalu terlimpah kepada orang-orang yang mau mengikuti kebenaran. Sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu memeluk Islam. Masuklah Islam, niscaya kamu akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa seluruh pengikutmu. Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah) (QS Ali Imran : 64).” HR Muslim 3322

Jika kita lihat surat ini pendek tapi cukup padat, Kita kembali bayangkan bagaimana kondisi majelis tersebut setelah heraklius membacakan surat dari Rasulullah salallahu alaihi wasallam, Abu sofyan menceritakan bagaimana kondisi pada saat itu, ketika selesai membaca surat itu maka gemparlah majelis itu dan suara-suara meninggi, kemudian kami dikeluarkan dari majelis tersebut.

Kita kembali bagaimana abu sofyan pada saat itu, ia datang dari jauh yaitu dari arab menuju syam untuk berniaga dan dibenak Abu Sofyan ridak pernah terbetik sedikitpun bahwa Heraklius yang merupakan pemimpin yang terbesar dari negeri adi kuasa pada waktu itu, akan mengetahui kabar Muhammad, dia tidak menyangka bahwa akan sampai beritanya kepada raja Heraklius. Dan yang lebih mengagetkan abu sofyan adalah apa yang dinyatakan Abu Sofyan pada berita tersebut adalah perkatakan Raja Heraklius diantaranya “Jika aku bisa sampai kepadanya dan bertemu dengannya maka aku akan mencuci kedua kakinya”.

Abu Sofyan keluar bersama teman-temannya dari majelis tersebut lalu kemudian berkumpul dan berdialog, berkatalah Abu Sofyan kepada sahabat-sahabatnya “ Sungguh urusan Ibnu Abu Kabsyah (Anak Abu Kabsyah, yakni nama ejekan yang dipanggilkan orang kafir Mekkah kepada Nabi Muhammad. Karena waktu kecil Nabi dipelihara oleh Halimah, yang suaminya bernama Abu Kabsyah) ini semakin hebat dan semakin dahsyat, Sesungguhnya pemimpin orang kulit kuning ini telah takut kepadanya (orang-orang Romawi). Abu Sofyan berkata bahwa telah masuk rasa yakin dalam hatiku pada saat itu bahwa Muhammad akan menang dan akan menguasai dunia ini, keyakinan itu tertancap hingga aku masuk islam.

Kemudian terjadi dialog antara Heraklius dan Pembesar-pembesar negerinya, Heraklius memerintahkan supaya mengunci semua pintu yang ada di istana tersebut.
Bisa kita bayangkan bila seorang raja memerintahkan seperti itu maka ada suatu yang sangat penting dan genting.

Saya ingin kita memperhatikan kisah ini, kisah yang sangat agung dan fenomenal dalam kehidupan umat manusia terlebih lagi kita kaum muslimin, perhatikan siapa yang berbicara dan siapa orang yang ditemani berbicara dalam kisah ini, Siapa yang dating kepada Heraklius? Dimana kisah ini terjadi? kita bisa bayangkan bahwa kejadian ini terjadi dalam sebuah Negara Super Power, yang tidak ada yang lebih besar darinya, saingannya hanya satu yaitu Persia waktu itu, inilah negeri yang bernama Romawi, yang sekarang berada dinegeri syiria. Bahwa apa yang akan dilakukan sang raja, apa kira-kira sikapnya terhadap surat yang datang kepadanya dan apa kira-kira yang diucapkannya terhadap jawaban surat yang datang kepadanya.

Taukah anda apa yang diucapkan sang raja? Raja kemudian Mengucapkan : Wahai sekalian penduduk negeri Romawi, Maukah kalian semua memperoleh kemajuan dan kemenangan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh ditangan kita? Kalau kaluan mau, Baia’tlah Muhammad itu sebagai nabi!,
Heraklius menyuruh kaumnya membaiat Nabi padahal nabi berada dinegeri medinah sedangkan mereka berada dinegeri romawi, jarak yang cukup jauh, bagaimana ini?

Ternyata kaumnya tidak satu katapun yang keluar dari mulut-mulut mereka, apa yang mereka lakukan setelah itu, mereka menjawabnya dengan perlakuan yaitu lari bagaikan keledai liar, namun mereka tidak mendapatkan jalan keluar, yang ada hanyalah pintu-pintu yang sudah terkunci, Melihat keadaan demikian Heraklius jadi putus harapan akan keimanan kepada Nabi Muhammad. Heraklius kemudian menyuruhnya untuk kembali, ketika mereka sudah putus asa melihat seruan ini, seruan yang sangat agung.  sang raja kemudian berkata : Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi, hanyalah untuk menguji keteguhan hati kalian, kini saya telah melihat keteguhan itu.

Sebenarnya apa yang terjadi pada sang raja Heraklius, sebenarnya beliau sudah beriman pada kerasulan Muhammad salallahu alaihi wa sallam, Raja Heraklius sangat yakin kepada kebenaran kerasulan Muhammad salallahu alaihi wa sallam, Raja Heraklius hampir saja mengucapkan keimanannya, namun sayang, karena kekuasaan dan orang-orang disekitarnya sehingga dia bertahan dengan keadaannya. Demikianlah akhir kisah tersebut.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran :

  1. Sebenarnya ahlu kitab itu sangat mengerti, memahami dan mengenal kebenaran risalah yang dibawa oleh Rasulullah salallahu alaihi wa sallam tapi sayangnya hal yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Rasulullah adalah kesombongan dan kebencian mereka kepada umat islam ini, inilah yang di abadikan oleh Allah dalam Al-qur’an :  “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang Telah kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri (Mengenal Muhammad salallahu alaihi wa sallam yaitu mengenal sifat-sifatnya sebagai yang tersebut dalam Taurat dan Injil.) dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka Mengetahui”. (Qs: Al Baqarah 146)
  2. pengetahuan akan sesuatu itu tidak cukup, dia harus dibarengi dengan sebuah keyakinan setelah pengetahuan itu dan harus tunduk dan diaplikasikan dalam kehidupan orang tersebut, demikianlah Raja Heraklius sangat yakin akan kerasulan Muhammad, namun dia tidak barengi ketundukannya terhadap pengetahuan akan kebenaran ini. Maka keyakinan Heraklius pun tidak dapat memasukkan dia dalam kelompok keimanan yang yaitu kelompok orang-orang yang berislam dan beriman kepada Rasulullah salallahu alaihi wa sallam.
  3. Kita harus yakin bahwa kemenangan dan kejayaan adalah milik kaum muslimin oleh karena itu keyakinan dan kejayaan harus senantiasa ada dalam hati kita. Dalilnya antara lain hadits “Tidak akan tinggal satu rumah pun yang ada di muka bumi ini kecuali islam akan memasukinya”.

Ditranskrip dari rekaman pribadi dalam Daurah syariyah yang dibawakan oleh Syaikh Dr. Abu Isa Al Musaimily.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: